Foot Binding, Tradisi Pengikatan Kaki bagi Perempuan Tiongkok

  • 30 Jan 2025 23:33 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Foot binding atau pengikatan kaki adalah praktik tradisional di Tiongkok yang berlangsung selama sekitar 1.000 tahun, terutama di kalangan perempuan dari kelas atas dan menengah. Proses ini melibatkan pembengkokan dan pengikatan kaki gadis muda (biasanya dimulai pada usia 4-9 tahun) agar ukurannya tetap kecil tidak lebih dari 10 cm.

Kaki kecil yang disebut 'lotus feet' dianggap sebagai simbol kecantikan, status sosial, dan kesopanan. Dalam buku Cinderella's Sisters: A Revisionist History of Footbinding karya Dorothy Ko ,sebuah kajian sejarah yang menyoroti praktik pengikatan kaki (footbinding) di Tiongkok menjelaskan bahwa praktik foot binding (pengikatan kaki) di Tiongkok dilakukan karena beberapa alasan

1. Standar Kecantikan

Kaki kecil dianggap sebagai simbol kecantikan dan keanggunan. Kaki berbentuk 'bunga teratai' (lotus feet) diyakini membuat perempuan terlihat lebih menarik.

2. Status Sosial

Perempuan dengan kaki terikat sering kali berasal dari keluarga kaya, karena mereka tidak perlu bekerja di ladang atau berjalan jauh. Memiliki lotus feet menunjukkan bahwa seorang perempuan berasal dari keluarga terhormat dan tidak perlu bekerja kasar.

3. Daya Tarik di Mata Laki-laki

Cara berjalan perempuan dengan kaki terikat dianggap lebih gemulai dan anggun, yang dianggap menarik bagi laki-laki. Ada juga kepercayaan bahwa foot binding meningkatkan daya tarik seksual karena cara kaki terikat memengaruhi otot kaki dan paha.

4. Kontrol Sosial dan Perkawinan

Perempuan dengan kaki terikat memiliki mobilitas terbatas, sehingga lebih tergantung pada keluarganya dan suaminya setelah menikah. Ini membantu menjaga kesetiaan dalam rumah tangga dan mengurangi kemungkinan perempuan 'melarikan diri' atau mandiri secara ekonomi.

5. Tradisi dan Tekanan Sosial

Praktik ini sudah berlangsung selama sekitar 1.000 tahun, sehingga banyak keluarga merasa wajib melakukannya agar anak perempuan mereka bisa menikah dengan pria dari keluarga baik. Jika seorang perempuan memiliki kaki normal (tidak diikat), kemungkinan besar dia akan sulit mendapatkan suami dari kalangan terhormat.

Sepatu khusus yang digunakan oleh perempuan dengan kaki terikat disebut sepatu lotus (lotus shoes, chánzú xié). Sepatu ini dirancang agar sesuai dengan bentuk kaki kecil hasil foot binding dan menjadi simbol kecantikan serta status sosial.

Namun praktik ini mulai ditinggalkan pada awal abad ke-20 setelah pemerintah Tiongkok dan kelompok reformis menganggapnya tidak manusiawi dan merugikan perempuan. Para reformis dan feminis Tiongkok berpendapat bahwa foot binding memperlemah perempuan dan menghambat kemajuan bangsa.

Mereka ingin perempuan bisa mendapatkan pendidikan dan berkontribusi dalam masyarakat. Pada tahun 1949, setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, larangan ini ditegakkan secara ketat, dan praktik ini pun benar-benar menghilang. Meskipun dilarang, beberapa perempuan tua di daerah pedesaan yang pernah mengalami foot binding masih hidup hingga awal abad ke-21. (Wiwik Martani)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....