Tisu, Sejarah Manfaat dan Bahaya yang Harus Dihindari

  • 29 Des 2024 21:08 WIB
  •  Surakarta

KBRN,Surakarta : Salah satu benda yang selalu tersedia dirumah dan dibawa kemanapun adalah tisu. Tisu digunakan untuk membersihkah wajah, membersihkan tangan dan lain sebagainya. Tisu sudah menjadi kebutuhan manusia, baik di rumah, restoran, hotel sampai di warung-warung kecil.

Menurut WHO (World Health Organization) dan EPA (Environmental Protection Agency) kertas pertama kali ditemukan oleh Cai Lun pada tahun 105 M di masa Dinasti Han. Awalnya, kertas digunakan untuk menulis dan mencetak. Namun, pada Dinasti Tang (618–907 M), kertas mulai digunakan sebagai pengganti kain atau bahan lainnya untuk keperluan kebersihan pribadi, termasuk sebagai lap setelah menggunakan toilet.

Selama Dinasti Song (960–1279 M), penggunaan kertas untuk keperluan kebersihan semakin meluas. Bahkan, catatan seorang pengelana Arab, Ibn Battuta, yang mengunjungi Tiongkok pada abad ke-14, menyebutkan bahwa masyarakat Tiongkok menggunakan kertas khusus untuk toilet, suatu hal yang dianggap unik karena berbeda dari kebiasaan masyarakat di tempat lain pada masa itu.

Penggunaan ini menunjukkan betapa inovatifnya masyarakat Tiongkok kuno dalam memanfaatkan kertas untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk kebersihan. Meskipun kualitasnya jauh lebih sederhana dibandingkan tisu modern, konsepnya menjadi dasar evolusi tisu yang kita gunakan saat ini.

Sementara itu sejarah mencatat tisu (tissue paper) modern berasal dari perusahaan Kimberly-Clark Corporation pada tahun 1924. Mereka menciptakan produk bernama Kleenex, yang awalnya dirancang sebagai kain pembersih kosmetik untuk menggantikan kain lap. Namun, penggunaannya berkembang menjadi tisu sekali pakai untuk berbagai keperluan, seperti mengelap hidung, wajah, dan tangan.

Namun penggunaan tisu modern memiliki beberapa potensi bahaya atau dampak negatif, baik bagi kesehatan, karena beberapa tisu mengandung bahan kimia seperti pemutih (bleach) berbasis klorin, pewangi, atau pelembut yang dapat menyebabkan iritasi kulit, alergi, atau gangguan pernapasan pada individu yang sensitif. Penggunaan tisu basah yang tidak steril dapat meningkatkan risiko infeksi jika digunakan pada luka terbuka atau area sensitif dan yang mengandung plastik mikro dapat masuk ke rantai makanan dan membahayakan kesehatan manusia dalam jangka panjang.

Tisu juga berdampak serius bagi lingkungan karena produksi tisu membutuhkan pulp kayu, yang seringkali berasal dari penebangan hutan, hal ini berkontribusi pada deforestasi, hilangnya habitat, dan pemanasan global. Tisu basah sering kali mengandung bahan sintetis yang tidak mudah terurai secara alami dan kalau dibuang sembarangan akan mencemari tanah dan air.

Oleh karena itu untuk mengurangi dampak yang membahayakan pilih tisu yang ramah lingkungan yang terbuat dari bahan daur ulang dan tanpa pewangi tambahan. Kurangi penggunaan tisu sekali pakai dengan menggantinya menggunakan kain yang bisa dicuci ulang . Dengan pemakaian yang bijak, dampak negatif dari penggunaan tisu dapat diminimalkan. (Wiwik Martani)

.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....