Catcalling, Pelecehan Verbal dan Cara Menghadapinya dengan Tepat
- 18 Nov 2024 15:26 WIB
- Surakarta
KBRN,Surakarta : Dalam sebuah tayangan kampanye pilkada melalui salah satu TV Nasional beberapa waktu lalu terjadi insiden 'Catcalling' yang membuat Moderator acara menjadi korban catcalling, yang kemudian menegur dan mendatangi sang pelaku dan mengatakan ketidaksukaannya terhadap tindakan tersebut . Sikap tegas moderator itu patut ditiru untuk menghindari tindakan negatif dan tidak simpati, selain sebagai cara untuk memjaga harkat dan kehormatan seseorang.
Menurut Dr. Jessica Taylor – Seorang psikolog dan penulis buku 'Why Women Are Blamed for Everything', Catcalling adalah istilah yang merujuk pada tindakan pelecehan verbal di ruang publik, biasanya berupa komentar, siulan, teriakan, atau suara tertentu yang sering kali ditujukan kepada wanita, dengan maksud menggoda, merendahkan, atau melecehkan terkait tubuh seseorang,panggilan tertentu,misalnya : wuih,seksi bos ; hei cantik nengok donk dan sebagainya.Tindakan ini dianggap tidak sopan dan tidak diinginkan karena sering kali membuat target merasa tidak nyaman, terintimidasi, atau tidak aman.
Kata ini berasal dari budaya teater abad ke-17, di mana 'catcalls' digunakan untuk menggambarkan ejekan atau siulan mengejek dari penonton. Namun, dalam konteks pelecehan gender, penggunaannya lebih menonjol setelah gerakan feminis pada tahun 1970-an dan 1980-an yang semakin menyoroti pelecehan di ruang publik. Maraknya diskusi tentang catcalling secara global meningkat pesat pada era 2010-an, terutama dengan kemunculan gerakan seperti #MeToo dan kampanye anti-pelecehan seperti Hollaback! yang dimulai pada 2005. Di Indonesia, perhatian terhadap catcalling mulai menjadi lebih luas pada dekade yang sama, terutama setelah isu kekerasan berbasis gender di ruang publik sering dibahas di media sosial dan komunitas feminis lokal.
Dalam masyarakat yang mendukung hierarki gender (masyarakat yang memegang budaya patriarki, beberapa orang merasa berhak memberikan komentar tentang tubuh atau penampilan orang lain, terutama wanita, sebagai cara untuk menunjukkan kekuasaan atau dominasi. Pelaku mungkin tidak memahami dampak negatif dari tindakannya atau menganggap bahwa catcalling adalah cara yang 'normal' untuk menarik perhatian karena kurangnya rasa empati dan abai terhadap dampak psikis tindakan tersebut. Namun ada juga beberapa orang melakukan catcalling sebagai bentuk hiburan atau untuk mendapatkan reaksi, baik karena ingin pamer di depan teman atau sekadar mencari kesenangan pribadi.
Beberapa cara untuk merespons dan menghadapi catcalling, untuk menjaga kenyamanan ditengah ruang publik harus dilakukan. Jika merasa terancam, prioritaskan keselamatan Anda dengan menghindari konfrontasi langsung yang bisa memicu tindakan lebih agresif dari pelak dan pergi ke tempat yang lebih ramai atau cari orang yang bisa membantu. Abaikan pelaku tanpa melibatkan emosi , karena tidak merespons sering kali membuat mereka kehilangan perhatian yang diinginkan. Atau ambil tindakan tegas tetapi singkat, seperti "Berhenti," atau "Itu tidak sopan." Sampaikan dengan nada tegas tanpa menunjukkan ketakutan atau kemarahan.
Cara lainnya adalah menggunakan bahasa non-verbal dan tunjukkan ekspresi tidak suka, seperti tatapan tajam atau gelengan kepala, tanpa harus berbicara tanpa senyuman atau memberikan reaksi yang bisa dianggap sebagai persetujuan. Jika merasa tidak aman, minta bantuan dari orang di sekitar, seperti penjaga keamanan, sopir kendaraan umum, atau pejalan kaki lainnya. Jika memungkinkan rekam tindakan pelaku (jika aman) untuk dijadikan bukti dan laporkan kejadian tersebut ke pihak berwenang atau organisasi yang menangani pelecehan di ruang publik.
Masih menurut Taylor ceritakan kepada teman atau keluarga untuk mendapatkan dukungan emosional. Namun apabila situasinya memungkinkan bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk menyadarkan pelaku seperti yang dilakukan sang moderator. Yang terakhir bangun ketahanan psikologis diri sendiri bahwa catcalling adalah refleksi dari perilaku buruk pelaku kepada sasarannya dan memilih cara yang paling tepat menghadapi kasus catcalling tersebut. (Wiwik Martani)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....