Memaknai Kesaktian Pancasila di Masa Kini
- 04 Okt 2026 13:51 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Pancasila sebagai dasar regulasi negara
- Pancasila sebagai living reality
- Musyawarah dan voting dalam demokrasi
- Generasi muda memaknai Pancasila melalui aksi nyata
RRI.CO.ID, Surakarta - Penerapan nilai-nilai Pancasila di era modern menghadapi dinamika yang beragam, mulai dari pembentukan regulasi negara hingga gaya pengamalan di kalangan generasi muda. Setiap kebijakan atau peraturan perundang-undangan di Indonesia diharapkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila maupun menyengsarakan rakyat.
Pakar Hukum Tata Negara dan Pancasila, Prof. Winarno, menjelaskan bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) memiliki kewenangan krusial untuk menilai dan mengkaji kesesuaian sebuah regulasi terhadap Undang-Undang Dasar dan Pancasila. Jika ditemukan adanya peraturan yang bertentangan, MK dapat mencabut peraturan tersebut baik sebagian maupun seluruhnya agar tidak lagi berlaku.
Prof. Winarno juga mengingatkan bahwa Pancasila bukan sekadar pajangan, melainkan living reality atau nilai-nilai yang sudah hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka, seperti gotong royong, musyawarah, dan kehidupan beragama.
Menanggapi keresahan masyarakat terkait implementasi Sila Keempat di mana budaya musyawarah mufakat dirasa mulai luntur dan tergantikan oleh sistem voting, Prof. Winarno menilai hal tersebut sebagai bentuk fleksibilitas Pancasila. Pancasila dinilai mampu mengakomodasi perkembangan demokrasi modern seperti sistem partai, pemilu, maupun pemungutan suara terbanyak. Meski demikian, ia memberikan garis bawah yang tegas bahwa sistem voting tidak boleh melanggar hak asasi dan martabat manusia.
"Meskipun kita adakan voting, itu sebenarnya norma yang mengatakan kita voting. Tapi ketika suara voting itu menjatuhkan martabat manusia, dia menelikung Sila Kedua. Jadi para peserta voting atau pemusyawaratan itu harus sadar, meskipun dia punya mayoritas, dia tidak bisa memaksakan kehendak " kata Winarno.
Sementara itu, dari sudut pandang generasi muda, pemaknaan Hari Kesaktian Pancasila kini telah mengalami pergeseran bentuk. Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Surakarta, Bilal, mengungkapkan bahwa anak muda saat ini memaknai dan mengamalkan Pancasila dengan gaya yang berbeda dibandingkan masa lalu yang lebih terpaku pada acara seremonial.
Menurut Bilal, pemuda saat ini lebih mengutamakan tindakan nyata (action). Ia mencontohkan pengamalan Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang dilakukan oleh KNPI dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) lintas agama di Surakarta melalui kolaborasi kegiatan bersama guna menjaga kerukunan dan silaturahmi.
"Mungkin ini sudut pandang yang agak lain dari memaknai Hari Kesaktian Pancasila dari sebelumnya. Anak-anak muda yang hari ini mungkin kurang tertarik dengan seremoni, upacara, dan lain-lain, tapi pengamalannya langsung action " ujar Bilal.
Di sisi lain, kebebasan berekspresi di era keterbukaan informasi dan media sosial kerap menimbulkan polarisasi hingga aksi saling serang di dunia maya. Menyikapi fenomena ini, Bilal menekankan bahwa organisasi kepemudaan harus mengambil peran aktif untuk menjaga iklim digital yang sehat. (Wiwik/Muh.Fahmi – UIN RMS Surakarta).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....