Sekaten Tak Hanya Hiburan, Filosofinya Perlu Dipahami Generasi Muda

  • 10 Agt 2026 05:54 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta- Perayaan Sekaten kini semakin berkembang sebagai ruang wisata budaya yang menawarkan beragam pengalaman bagi masyarakat. Tidak hanya gamelan, Sekaten juga menghadirkan wahana permainan, atraksi, kuliner, perdagangan, hingga suasana Keraton yang menjadi bagian dari daya tarik wisata.

Hal itu dikatakan oleh Budayawan sekaligus Guru Besar Filologi FIB UNS Prof.Dr. Bani Sudardi, M. Hum dalam Bincang Pagi Pro 1 Surakarta 5 Agustus 2026. "Perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika kebudayaan," kata Prof. Bani. Menurutnya, masyarakat dan kebudayaan selalu berkembang sehingga tradisi seperti Sekaten juga mengalami penyesuaian dengan kebutuhan dan selera generasi masa kini.

Prof. Bani mencontohkan, masyarakat pada masa lalu datang ke Sekaten dengan berjalan kaki dari berbagai daerah, bahkan membawa obor karena perjalanan menuju pusat kota dapat ditempuh selama berjam-jam. "Mereka juga memiliki tujuan tertentu, seperti membeli mainan, makanan, maupun benda-benda yang dipercaya memiliki makna atau sugesti tertentu," katanya.

Kini, pola tersebut berubah dengan hadirnya kendaraan bermotor, mobil, area parkir, serta berbagai wahana hiburan. Bahkan, menurut Prof. Bani, perhatian masyarakat terhadap gamelan Sekaten kini tidak selalu sebesar ketertarikan mereka terhadap berbagai atraksi yang ada di sekitarnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan untuk menjaga Sekaten agar tidak kehilangan esensinya sebagai tradisi budaya dan media dakwah Islam. Unsur hiburan dan komersial tetap dapat berkembang, tetapi perlu diimbangi dengan pengenalan sejarah dan filosofi Sekaten.

Prof. Bani menilai storytelling dapat menjadi salah satu cara menarik untuk memperkenalkan Sekaten kepada generasi muda. Cerita mengenai tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun, simbol-simbol budaya, gamelan Sekaten, hingga keterlibatan Keraton dapat dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.

Menurutnya, Sekaten memiliki daya tarik yang lengkap karena mempertemukan sejarah, budaya, simbol, tradisi Keraton, serta berbagai atraksi dalam satu perayaan. Terlebih, Sekaten hanya digelar setahun sekali sehingga memberikan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat maupun wisatawan.

Prof. Bani menegaskan, Sekaten sebagai warisan budaya sangat mungkin terus mengalami perubahan. Namun, perubahan tersebut diharapkan tidak menghilangkan nilai-nilai kehidupan yang luhur, kearifan lokal, semangat, dan harapan yang menjadi bagian penting dari tradisi Sekaten. (Wiwik)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....