Sekaten, Warisan Budaya Jawa yang Menyimpan Jejak Dakwah Islam
- 10 Agt 2026 05:58 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Sekaten bukan sekadar perayaan tahunan dengan kemeriahan gamelan dan keramaian masyarakat. Di balik tradisi tersebut tersimpan sejarah panjang, simbol budaya, sekaligus jejak dakwah Islam yang telah berkembang sejak masa Kerajaan Mataram.
Dalam Bincang Pagi, Rabu 5 Agustus 2026, Guru Besar Filologi FIB UNS dan Budayawan, Prof. Dr Bani Sudardi, M.Hum mengatakan, Sekaten dalam kajian kebudayaan termasuk folklore, yakni tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus bagian dari festival masyarakat. "Tradisi ini disebut telah berkembang sejak masa Sultan Agung dan terus mengalami perubahan hingga saat ini," kata Prof. Bani.
Menurut Prof. Bani, gamelan menjadi salah satu unsur penting dalam Sekaten karena digunakan sebagai media dakwah melalui seni budaya. Hal tersebut antara lain tergambar dalam Serat Sastra Gending karya Sultan Agung yang menggambarkan hubungan antara bermain gending dan pelaksanaan ibadah melalui konsep harmoni.
"Sekaten juga merupakan bentuk perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang berkembang sebagai ekspresi kecintaan kepada Nabi," ujar Prof Bani. Selain itu, tradisi tersebut digunakan sebagai sarana dakwah Islam dengan memanfaatkan seni dan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sejumlah unsur Sekaten pada masa lalu juga memiliki simbol dan makna keagamaan. Prof. Bani mencontohkan gantal atau pinang yang dahulu menjadi bagian dari tradisi Sekaten dan dimaknai berkaitan dengan lima dasar ajaran Islam, yakni syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji.
Namun, sejumlah simbol dan tradisi tersebut kini mulai berkurang dalam perayaan Sekaten. Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran bentuk perayaan seiring perkembangan masyarakat, meskipun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap penting untuk dipahami.
Prof. Bani menilai perubahan merupakan bagian yang wajar dalam perkembangan kebudayaan. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat tetap mampu mempertahankan nilai positif dan kearifan lokal Sekaten di tengah semakin kuatnya unsur hiburan dan komersial.
Karena itu, Sekaten tidak cukup hanya dipandang sebagai keramaian tahunan. Menurut Prof. Bani, tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Jawa yang menyimpan nilai kehidupan, semangat, serta harapan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. (Wiwik)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....