TPS3R Ngipang Kadipiro Kembangkan Inovasi Pengelolaan Sampah Organik
- 01 Agt 2026 12:53 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta- Pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus berkembang di Kota Surakarta. Salah satunya dilakukan Paguyuban TPS3R Ngipang, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, yang menghadirkan inovasi pengelolaan sampah organik melalui konsep reduce, reuse, recycle (3R) yang terintegrasi dengan pertanian, peternakan, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam Obrolan Komunitas Pro 1 Surakarta, Jumat 31 Juli 2026, Ketua Paguyuban TPS3R Ngipang Kadipiro, Rusmanto menjelaskan cikal bakal komunitas tersebut berawal dari gerakan kepedulian terhadap pencemaran Sungai Kali Klebengan. "Pada awal tahun 2000-an, sungai Klebengan dipenuhi sedimentasi dan limbah rumah tangga maupun industri sehingga menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas masyarakat," ujar Rusmanto.
Rusmanto mengatakan berbagai upaya dilakukan untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap kondisi sungai, mulai dari kegiatan budidaya ikan hingga mengajak sejumlah pemangku kepentingan meninjau lokasi. Setelah melalui proses yang cukup panjang, penanganan kawasan sungai akhirnya mulai terealisasi melalui kolaborasi berbagai instansi pemerintah dan masyarakat.
Seiring berkembangnya komunitas, aktivitas tidak lagi hanya berfokus pada penyelamatan sungai, tetapi juga diperluas menjadi program ketahanan pangan. Dukungan pembangunan greenhouse, peternakan kambing dan sapi, serta budidaya tanaman menjadi modal awal yang kini berkembang menjadi usaha produktif berbasis ekonomi sirkular.
Menurut Rusmanto, limbah peternakan justru menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Kotoran hewan diolah menjadi pupuk organik dan media tanam bernilai ekonomi, bahkan memberikan nilai manfaat yang lebih besar dibandingkan hasil penjualan ternaknya sendiri. Produk tersebut dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha tanaman hias dan hortikultura.
Dalam pengelolaan sampah, TPS3R Ngipang memilih fokus pada sampah organik. Sampah sisa makanan, dedaunan, dan limbah dapur diolah menjadi kompos, pupuk organik cair, hingga dimanfaatkan sebagai pakan budidaya maggot. Langkah tersebut menjadi upaya mengurangi timbulan sampah organik yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo.
Komunitas juga melibatkan generasi muda dalam setiap aktivitasnya. Salah seorang anggota termuda, Abdul Amar yang masih duduk di bangku SMP, mengaku bergabung atas keinginan sendiri. " Saya bergabung untuk menambah pengalaman sekaligus terlibat langsung dalam proses pengelolaan sampah mulai dari penerimaan, pencacahan, hingga pengolahan," kata Amar.
Rusmanto berharap pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga melalui pemilahan sampah sejak dari dapur dan penggunaan komposter sederhana. Menurutnya, langkah tersebut mampu menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPA, sehingga pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....