Pengrajin Wayang Kulit Bertahan di tengah Lesunya Permintaan
- 26 Jul 2026 17:42 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Produksi wayang kulit menghadapi berbagai tantangan di tengah perubahan zaman. Selain permintaan yang menurun sejak pandemi COVID-19, kenaikan harga bahan baku dan minimnya regenerasi pengrajin turut menjadi persoalan yang dihadapi pelaku usaha. Meski demikian, para pengrajin tetap berupaya menjaga kualitas demi mempertahankan warisan budaya tersebut.
Hal itu disampaikan Pemerhati dan Pelaku Usaha Pembuatan Wayang, Satino Siswa Dharsono, dalam program Beranda Astacita RRI Surakarta, Jumat, 24 Juli 2026. Menurutnya, industri wayang kulit mengalami perubahan cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.
"Sebelum COVID pesanan wayang masih bagus. Tapi setelah pandemi, penurunannya luar biasa dan sampai sekarang belum benar-benar pulih," ujar Satino.
Ia menjelaskan, dampak menurunnya permintaan membuat banyak pengrajin akhirnya beralih profesi karena sepinya pesanan. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya harga bahan baku, terutama prodo emas yang masih bergantung pada impor.
"Yang paling berat itu bahan baku. Harganya dipengaruhi dolar dan harga emas. Tapi kami tidak mungkin menurunkan kualitas karya hanya karena biaya produksi naik," katanya.
Di balik sebuah wayang kulit, lanjut Satino, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian tinggi. Mulai dari pengolahan kulit kerbau, pembuatan pola, penatahan, hingga proses sungging atau pewarnaan. Untuk menghasilkan satu tokoh wayang berkualitas tinggi saja dibutuhkan waktu sekitar delapan hingga sembilan hari, belum termasuk proses pengeringan bahan.
Meski teknologi mulai digunakan pada beberapa tahapan seperti penggandaan desain dan penghalusan, Satino menilai pengerjaan manual tetap menjadi pilihan utama agar kualitas karya tetap terjaga. "Kalau menurut saya, yang paling bagus memang tetap dikerjakan manual. Hasilnya jauh berbeda dibanding menggunakan mesin," ucapnya.
Di sisi lain, Satino masih melihat harapan terhadap regenerasi pengrajin, khususnya di Desa Kepuhsari, Kabupaten Wonogiri, yang dikenal sebagai sentra kerajinan wayang. Menurutnya, masih ada anak-anak hingga remaja yang belajar membuat wayang melalui sanggar, meski jumlahnya tidak sebanyak dulu.
Dalam hal pemasaran, media sosial justru menjadi peluang baru. Satino mengaku sekitar 60 persen konsumennya kini berasal dari platform digital karena dinilai lebih efektif dan memiliki jangkauan yang lebih luas dibanding mengikuti pameran.
Namun demikian, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih nyata terhadap para pengrajin, baik melalui promosi, pendampingan, maupun dukungan permodalan agar industri wayang kulit tetap bertahan.
Menutup perbincangan, Satino mengajak generasi muda untuk terus berkarya dan tidak takut menekuni bidang seni budaya. Ia meyakini kualitas akan selalu menjadi nilai utama dalam sebuah karya.
"Tetap berkarya sebaik-baiknya. Nanti kualitas karya Anda yang akan menentukan pasar, dan harga akan menyesuaikan," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....