SR Terintegrasi 78 Sragen Siap Beroperasi, Pemkab Bentuk Tim Transisi-Guru Tamu

  • 08 Jul 2026 17:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen bergerak cepat menyiapkan tim pengajar cadangan demi menyambut tahun ajaran baru Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 78 Sragen yang akan dimulai pada Selasa, 14 Juli 2026 mendatang. Langkah antisipasi ini diambil lantaran proses rekrutmen guru tetap di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) RI hingga saat ini masih berjalan.

Pada Tahun Ajaran 2026/2027 ini, Pemkab Sragen dihadapkan pada tantangan pemenuhan tenaga pendidik untuk total tujuh rombongan belajar (rombel). Rinciannya meliputi rombel untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), tiga rombel Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan tiga rombel Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sragen, Yuniarti, menjelaskan bahwa berdasarkan surat dari Sekretaris Jenderal Kemensos, Pemkab Sragen diminta mengambil langkah taktis untuk mem-back-up sejumlah persiapan operasional sekolah berasrama (boarding school) tersebut.

"Proses rekrutmen gurunya kan ada di Kemensos dan saat ini baru berjalan, kami belum tahu pasti kapan penetapannya. Namun sesuai instruksi pusat, Pemkab Sragen diminta mem-back-up beberapa hal penting, salah satunya mempersiapkan guru tamu," ujar Yuniarti saat dikonfirmasi, Selasa 7 Juli 2026.

Yuniarti memaparkan, guru tamu ini akan bertugas mengisi kekosongan tenaga pendidik hingga ada penetapan guru tetap dari Kemensos. Untuk merealisasikan hal tersebut, Pemkab Sragen telah membentuk Tim Transisi yang dipimpin langsung oleh Bupati Sragen, Wakil Bupati, Sekda, serta jajaran OPD terkait. Tugas tim ini adalah mengawal masa peralihan siswa ke gedung baru sekaligus memastikan kesiapan tenaga pengajar.

Dalam pemenuhan guru tamu ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen akan bertanggung jawab penuh untuk jenjang SD dan SMP. Sementara untuk jenjang SMA, pihak Pemkab telah berkoordinasi dan menghadirkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dalam rapat tim transisi.

Di sisi lain, Yuniarti membeberkan dinamika menarik terkait pemenuhan kuota siswa di jenjang SD. Dari total kuota 90 kursi yang disediakan, hingga saat ini baru tercatat ada delapan siswa yang mendaftar.

Menurutnya, fenomena minimnya pendaftar SD ini tidak hanya terjadi di Sragen, melainkan di seluruh Indonesia yang memiliki program serupa. Faktor psikologis orang tua menjadi pemicu utama.

"Banyak warga Sragen yang sebenarnya ingin menyekolahkan anaknya di SR Terintegrasi, tapi maunya yang bisa pulang ke rumah. Sementara aturan di sini wajib berasrama. Orang tua rata-rata masih merasa anaknya terlalu kecil untuk dilepas tinggal di asrama," kata dia menjelaskan.

Meski demikian, Yuniarti menegaskan bahwa pihak sekolah mengambil kebijakan longgar khusus untuk jenjang SD. Pemkab akan terus membuka peluang pendaftaran sepanjang tahun ajaran berjalan.

"Kami tetap membuka peluang. Meskipun nanti proses belajar mengajar sudah berjalan, kami akan tetap menerima siswa baru untuk SD di kelas berapa pun," katanya.

Sistem boarding atau asrama penuh ini sengaja dipertahankan bukan tanpa alasan. Program ini didesain tidak hanya untuk mengejar capaian akademik (academic branding), melainkan untuk pembentukan karakter (character building) anak sejak dini agar lebih efektif dan teratur sejak bangun tidur hingga beristirahat kembali.

Mengenai kekhawatiran orang tua, Yuniarti meluruskan bahwa sistem asrama di SR Terintegrasi 78 Sragen tidak kaku. Orang tua tetap diberikan ruang untuk menjenguk (nilik) putra-putri mereka pada akhir pekan. Selain itu, para siswa juga diperbolehkan pulang ke rumah saat memasuki masa libur sekolah resmi. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....