Pemanfaatan Pekarangan Jadi Kunci Ketahanan Pangan Keluarga
- 25 Jun 2026 17:00 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Pemanfaatan lahan pekarangan dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah beragam tantangan ekonomi dan akses pangan masyarakat. Selain menghasilkan bahan pangan, pekarangan juga dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, hingga lingkungan apabila dikelola secara tepat.
Praktisi Pertanian Kabupaten Karanganyar, Margono, mengatakan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengaksesnya. “Kalau bahan pangan itu tersedia tetapi masyarakat tidak bisa menjangkaunya dengan membeli, itu juga krisis. Karena itu pekarangan yang ada di sekitar rumah bisa menjadi solusi agar pangan tersedia dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Margono dalam dialog di RRI Surakarta.
Menurutnya, pekarangan memiliki empat fungsi utama, yakni fungsi estetika, ekonomi, substitusi pangan dan obat keluarga, serta fungsi sosial kemasyarakatan. “Yang ideal, keempat fungsi pekarangan ini kita gabungkan menjadi satu. Ada estetikanya, ada nilai ekonominya, bisa menjadi sumber pangan dan obat, sekaligus bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Margono menjelaskan, sebelum memanfaatkan lahan pekarangan, masyarakat perlu memahami kondisi wilayah dan karakteristik lahannya. Faktor seperti ketinggian tempat, ketersediaan air, lokasi perkotaan atau pedesaan, hingga luas lahan akan menentukan jenis komoditas yang cocok dibudidayakan.
Di dataran tinggi, misalnya, tanaman seperti wortel dan bawang putih lebih sesuai dikembangkan. Sementara di dataran rendah, masyarakat dapat memilih komoditas seperti cabai dan kangkung.
Selain kondisi lahan, keberhasilan pemanfaatan pekarangan juga dipengaruhi oleh tiga faktor penting, yakni ilmu pengetahuan, tenaga kerja, dan modal. “Walaupun hanya sekadar menanam kangkung, kalau tidak tahu ilmunya ya sulit juga untuk dikembangkan. Karena itu ilmu, tenaga, dan modal harus dipersiapkan,” ucapnya.
Bagi masyarakat yang baru memulai, Margono menyarankan untuk mencoba budidaya tanaman yang sederhana dan mudah dirawat, seperti kangkung. “Per meter, dalam 35 hari, kangkung bisa memberikan keuntungan sekitar Rp3.000. Selain untuk konsumsi sendiri, sebagian bisa dibagikan ke tetangga dan sebagian lagi bisa dijual,” ujarnya.
Ia juga menilai lahan sempit bukan menjadi hambatan untuk bertani. Pemanfaatan galon bekas, polybag, maupun sistem vertikultur dapat menjadi alternatif agar masyarakat tetap dapat bercocok tanam meski memiliki keterbatasan ruang.
Dalam pengendalian hama, Margono mendorong penggunaan pestisida organik berbahan alami yang difermentasi. Menurutnya, metode tersebut lebih ramah lingkungan dan mampu menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar tanaman.
Tak hanya itu, ia berharap generasi muda turut tertarik mengembangkan pertanian pekarangan dengan memanfaatkan berbagai teknologi yang kini tersedia. Anak-anak muda sekarang tertarik pada teknologi. Kalau pertanian dikemas dengan teknologi yang lebih modern dan hasilnya menjanjikan, mereka akan lebih tertarik untuk terjun ke bidang ini,” katanya.
Margono menambahkan, keberadaan kelompok tani, komunitas, hingga organisasi masyarakat seperti PKK sangat penting untuk memperkuat gerakan pemanfaatan pekarangan. Melalui kolaborasi, masyarakat dapat saling berbagi pengetahuan, pengalaman, hingga akses pemasaran hasil panen.
Menutup perbincangan, Margono mengajak masyarakat untuk mulai memanfaatkan pekarangan sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. “Satu sisi pekarangan harus membuat rumah menjadi nyaman. Syukur kalau ada nilai ekonominya, bisa menjadi sumber pangan dan obat keluarga, serta bisa berbagi dengan tetangga. Semua itu bisa diakomodasi dari pekarangan kita sendiri,” kata Margono.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....