Ketahanan Pangan Sragen Kuat di tengah Fenomena El Nino

  • 24 Apr 2026 20:44 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Ketahanan pangan di Kabupaten Sragen dinilai masih cukup kuat di tengah El Niño yang memicu musim kering lebih panjang. Pola tanam padi–padi–palawija yang diterapkan petani menjadi strategi adaptif yang dinilai tetap menguntungkan dan menjaga produktivitas.

Dalam Dialog Pagi Pro 1 Surakarta Jumat, 24 April 2026, Kabid Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen, Riadi Nugroho, SP, MP, menyebut pola tanam tersebut menjadi andalan petani dalam menjaga stabilitas produksi. "Sinergi antara pemerintah dan petani menjadi faktor penting dalam menghadapi kondisi iklim ekstrem, " katanya.

Di sisi lain, keberadaan ribuan pompa submersible swadaya petani mampu membantu mengatasi keterbatasan air irigasi. Teknologi ini dinilai efektif menjaga lahan pertanian tetap produktif meski curah hujan menurun.

Namun demikian, penggunaan air tanah secara masif juga menimbulkan dampak lain bagi masyarakat. Sejumlah sumur warga dilaporkan mengalami penurunan debit, sehingga kebutuhan air bersih kini banyak bergantung pada layanan PDAM.

Kepala Desa Tunggul, Suntoro, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tingkat desa. "Kebutuhan air untuk pertanian dan rumah tangga harus dikelola secara bijak dan itu sudah kami kelola dengan baik agar tidak menimbulkan konflik di masyarakat," ujar Suntoro.

Selain persoalan air, petani juga menghadapi serangan hama tikus yang meningkat saat musim kering. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Sragen, Suratno, menyebut serangan tikus dapat menurunkan hasil panen jika tidak ditangani secara bersama.

"Berbagai upaya pengendalian terus kami akukan, salah satunya melalui pelibatan pemburu tikus dengan sistem insentif," ucap Ratno. Dalam praktiknya, satu ekor tikus dihargai sekitar lima ribu rupiah, dan dalam sehari jumlah tikus yang dibasmi bisa mencapai ratusan ekor.

Meski demikian, penggunaan metode setrum telah dilarang karena berisiko terhadap keselamatan. Ke depan, sinergi antara pemerintah, kelompok tani, dan KTNA diharapkan terus diperkuat untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus memastikan keberlanjutan sumber daya air bagi masyarakat. (Wiwik)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....