Digdaya: Digital Berbudaya dan Berkeadilan Gender di SMP Negeri 3 Kota Surakarta
- 03 Mar 2026 20:15 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Program Digdaya di SMP Negeri 3 Kota Surakarta diluncurkan merespons pesatnya digitalisasi siswa. Sekolah menggabungkan literasi digital dan pengarusutamaan gender dalam satu kebijakan terpadu.
Dalam Obrolan Siang (OBSI) Pro 1 RRI Surakarta, Senin, 2 Maret 2026, Kepala sekolah SMP Negeri 3 Kota Surakarta, Kucisti Ike Retnaningtyas Suryo Putro,S.Pd., M.Pd., menyebut ruang digital tak bisa dibendung. Oleh karena itu, pendidikan harus hadir membimbing, bukan sekadar melarang penggunaan gawai.
"Masih ditemukan perundungan dan diskriminasi berbasis gender. Kasus tersebut muncul di lingkungan sekolah maupun media sosial siswa, " ucapnya.
Menurutnya, kesetaraan gender penting untuk pembangunan inklusif berkelanjutan. Tanpa sistem pendukung terstruktur, ketidakadilan mudah luput dari penanganan.
Untuk itu sekolah menerapkan regulasi berbasis PUG dan sekolah ramah anak. Kebijakan anti kekerasan serta integrasi gender diterapkan dalam pembelajaran intrakurikuler hingga ekstrakurikuler.
Sekolah juga menggunakan data terpilah gender untuk memantau kasus. Pendampingan dilakukan guru BK dan tim khusus secara tertutup dan profesional.
"Dalam aspek literasi digital, SMPN 3 Surakarta memiliki jadwal literasi rutin. Perpustakaan digital dan presensi barcode memperkuat pembiasaan teknologi positif, " katanya.
Presensi digital dapat diakses guru dan orang tua. Teknologi juga dimanfaatkan dalam program karakter dan kegiatan keagamaan siswa.
Ike menegaskan perbedaan antara melek digital dan berbudaya digital. Banyak anak piawai teknologi, tetapi belum tentu memahami etika bermedia.
Ia menekankan berbudaya digital berarti mampu memilah informasi dan menghindari hoaks. Siswa juga diajak berpikir sebelum berkomentar atau mengunggah konten.
"Dalam praktik kesetaraan gender, kesempatan belajar dan berorganisasi terbuka setara. Ketua OSIS dijabat siswi perempuan sebagai contoh kepemimpinan inklusif, " ucapnya.
Sekolah juga membentuk duta gender sebagai relawan teman sebaya. Kolaborasi internasional Indonesia–Korea turut memperkuat prestasi hingga tingkat global.
Ike berpesan orang tua tak harus menjadi ahli teknologi. Dengan komunikasi humanis dan kolaborasi sekolah, keluarga, serta lingkungan, generasi tangguh dan berkeadilan dapat terwujud. (CA)