Tantangan Baru Gizi Anak di tengah Perubahan Pola Konsumsi
- 15 Feb 2026 20:56 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat perkotaan kini mulai memengaruhi kondisi kesehatan balita. Kalau sebelumnya persoalan gizi kurang menjadi perhatian utama, saat ini muncul tantangan baru berupa meningkatnya risiko gizi lebih hingga obesitas pada balita, termasuk di kota Surakarta.
Hal itu dikatakan oleh dr. Yusuf Bachtiar, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surakarta dalam Obrolan Siang Pro 1 Surakarta, Jumat 13 Februari 2026 “Saat ini kota Solo menghadapi kecenderungan beban gizi ganda, sebagian balita masih berisiko karena perubahan pola makan dan aktivitas fisik,” kata dokter Yusuf.
Lanjutnya kebiasaan orang tua memberi makanan cepat saji, minuman tinggi gula dan membiarkan anaknya bermain gawai tanpa aktivitas fisik, menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Kondisi ini membuat upaya edukasi gizi keluarga menjadi semakin penting agar orang tua tidak hanya memperhatikan kecukupan makan, tetapi juga kualitas gizi anak.
Dokter Yusuf menjelaskan persoalan kurang gizi belum sepenuhnya hilang. “Dari laporan yang masuk ke Dinkes, masih ada beberapa keluarga memiliki pola konsumsi yang dominan karbohidrat namun kurang protein hewani dan mikronutrien, sehingga anak tampak cukup makan tetapi belum tentu memenuhi kebutuhan gizi seimbang,” ucapnya.
“Dalam momentum Hari Gizi Nasional dan program Bulan Vitamin A ini, edukasi pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu strategi yang terus dilakukan,” ujar dokter Yusuf. Menurutnya pangan lokal dinilai memiliki potensi besar karena lebih mudah diakses, relatif terjangkau, dan banyak yang memiliki kandungan gizi baik bagi tumbuh kembang anak.
Senada dengan dokter Yusuf, salah satu pendengar RRI, Sriyatmo dari Pajang Surakarta menilai pangan lokal di Solo sebenarnya cukup beragam untuk memenuhi kebutuhan gizi balita. “Sayuran hijau, tempe, tahu, telur, hingga ikan air tawar cukup murah dan mudah diperoleh, tinggal diolah dengan tepat sudah sangat cukup,” katanya.
Namun ada juga pendengar lain, Suprapto yang berpendapat tantangan utama bukan pada ketersediaan pangan, melainkan pada pola konsumsi keluarga. “Jadi kesibukan orang tua dan banyaknya makanan instan membuat anak lebih memilih makanan praktis dibanding makanan rumahan berbahan lokal, ucapnya.
Dinas kesehatan Surakarta selalu mengupayakan, melalui kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, pemanfaatan pangan lokal dapat terus diperkuat Ini penting agar mampu mendukung pemenuhan gizi seimbang dan memastikan anak-anak tumbuh sehat, aktif, dan optimal di masa depan. (Wiwik)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....