Penataan Jalan Yos Sudarso dan Gatot Subroto Solo

  • 15 Feb 2026 07:49 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, surakarta - Program penataan kawasan Jalan Yos Sudarso , Gatot Subroto menjadi salah satu fokus Pemerintah Kota Surakarta pada 2026. Program ini merupakan bagian dari peningkatan infrastruktur untuk mendukung kawasan destinasi wisata terpadu yang telah masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Taufiq Muhammad, S.SiT., M.T., menjelaskan kawasan Jalan Yos Sudarso memiliki peran strategis karena masuk dalam konsep looping kawasan wisata Kota Solo. Konsep tersebut menghubungkan Jalan Radjiman, Gatot Subroto, Slamet Riyadi, dan Yos Sudarso sebagai satu kesatuan koridor wisata kota.

Menurut Taufiq, penataan kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus menambah daya tarik wisata kota. Ia menegaskan bahwa Solo tidak memiliki destinasi wisata alam, sehingga inovasi melalui penataan kawasan perkotaan menjadi keharusan.

“Harapannya bisa meningkatkan UMKM, ekonomi masyarakat, dan nilai keindahan kota,” ujarnya dalam Bincang Pagi Pro 1 RRI Surakarta Kamis 5 Februari 2026 dipandu Riandani Surya.

Terkait konsep penataan, Taufiq menyebut proyek ini berada dalam ranah Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Namun, Dinas Perhubungan bersama Wali kota, DPU, dan tim permukiman kewilayahan terus melakukan diskusi untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan manfaat bagi masyarakat, terutama terkait manajemen dan rekayasa lalu lintas.

Dari konsep awal yang disusun, trotoar Jalan Yos Sudarso direncanakan diperlebar hingga tiga meter di sisi kanan dan kiri. Trotoar tersebut akan difungsikan untuk pedestrian sekaligus mendukung aktivitas UMKM. Selain itu, penataan fasilitas publik juga mencakup perapian jaringan listrik melalui sistem ducting di bawah tanah.

Salah satu isu yang sempat mengemuka adalah rencana penerapan sistem satu arah di Jalan Yos Sudarso. Namun, Dishub menilai opsi tersebut cukup berat karena jalan ini menjadi jalur penghubung dari Sukoharjo dan Wonogiri menuju pusat kota. Selain, keberadaan pertokoan dan aktivitas bongkar muat truk menjadi pertimbangan utama.

Dishub kemudian menawarkan beberapa opsi, antara lain mempertahankan dua arah dengan penataan ulang median jalan, memperkecil median untuk pelebaran trotoar, atau penerapan satu arah pada malam hari. Dari hasil pembahasan bersama, opsi mempertahankan dua arah dinilai paling memungkinkan untuk saat ini.

Sementara itu, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik, Prof. Ir. Winny Astuti, M.Sc., Ph.D., menilai kawasan Yos Sudarso termasuk dalam segitiga emas Kota Solo karena berdekatan dengan Keraton, Pura Mangkunegaran, dan Pasar Gede. Ia menyebut penataan pedestrian sangat potensial mendorong pengembangan wisata berbasis atraksi budaya dan ekonomi lokal. Pengaturan waktu pedestrian pada sore hingga malam hari dapat menjadi solusi logis untuk mengundang wisatawan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru yang dikelola masyarakat.

( Zahra/MagangUNS )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....