Deteksi Dini Kanker Payudara Dengan Gerakan SADARI

  • 15 Feb 2026 07:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Deteksi dini kanker payudara sangat penting, sebagaimana dibahas dalam Beranda Astacita di studio pro1 RRI Surakarta, Selasa 10 Februari 2026 bersama dr. Bidari Kameswari, Sp.PA. dari RSO Soeharso Surakarta. Materi kali ini menekankan gerakan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) sebagai langkah awal yang murah dan mudah dilakukan sendiri.

Kanker payudara merupakan penyebab kematian nomor satu akibat kanker pada wanita di Indonesia, termasuk Jawa Tengah dan Surakarta yang kasusnya paling tinggi. "Penyakit ini juga bisa menyerang pria meski jarang, sehingga deteksi dini melalui SADARI menjadi fokus utama untuk mencegah kanker, " ucapnya.

Faktor genetik berperan besar, dengan risiko hingga 50-60% jika ada riwayat keluarga dengan penyakit kanker apa pun. Selain itu, gaya hidup modern seperti makanan cepat saji, kurang tidur, begadang, dan merokok juga multifaktorial sebagai pemicu.

Lanjutnya, wanita yang sudah menstruasi pada usia berapa pun berisiko terkena penyakit kanker payudara, terutama remaja putri dan ibu-ibu. Benjolan aneh yang terdapat di payudara merupakan tanda utama kanker ini, meski tidak selalu disertai nyeri atau sakit.

dr. Bidari Kameswari, Sp.PA mengatakan, Gerakan SADARI adalah singkatan dari Periksa Payudara Sendiri, metode deteksi dini paling murah yang bisa dilakukan sendiri. SADARI sangat penting terutama bagi yang berisiko genetik, dengan meraba payudara saat mandi atau berbaring dapat mempermudah dalam mendeteksi benjolan.

Idealnya sesering mungkin melakukan deteksi dini, minimal satu kali dalam sebulan, karena diri sendiri paling tahu perubahan tubuh. Jika ditemukan benjolan aneh yang tidak biasa ada pada sekitar payudara, lanjutkan ke USG, mamografi, atau dokter spesialis.

Lanjutnya, apabila sudah terkena kanker payudara, segera lakukan pengobatan seperti kemoterapi, radioterapi, atau pegangkatan tumor jinak supaya kanker dapat segera ditangani. Selain itu, semangat dalam diri pasien dan selalu berfikir positif juga dapat menjadi salah satu faktor penyembuhan kanker.

Pencegahan melalui gaya hidup sehat, skrining dini, dan kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi beban penyakit ini. Mari dukung setiap penderita kanker dengan empati, ilmu pengetahuan, dan optimisme, karena di balik setiap tantangan tersimpan peluang untuk sembuh.

( Indah/MagangUNS )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....