Sekolah Rakyat, Jalan Baru Putus Kemiskinan Lewat Pendidikan
- 21 Okt 2025 12:27 WIB
- Surakarta
KBRN,Surakarta: Langit siang Surakarta yang terang dengan cuaca yang panas itu, terasa teduh ketika Sekolah Rakyat 17 Surakarta Menengah Atasdi Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso, resmi berdiri, Senin (14/7/2025). Kehadiran Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfiyang meresmikan Sekolah Rakyat, didampingi Wali Kota Surakarta Respati Ardi disambut antusias para siswa maupun pengelola Sekolah Rakyat.
Suasana haru menyelimuti acara sederhana itu bukan hanya karena simbol peresmian. Lebih dari itu karena makna besar di baliknya: membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem untuk menata masa depan yang lebih cerah.
“Program ini bertujuan menciptakan generasi baru dari keluarga miskin ekstrem agar bisa keluar dari siklus kemiskinan lewat pendidikan yang bermutu,” ujar Luthfi usai meninjau ruang belajar.

Siswa Sekolah Rakyat sedang mengikuti pembinaan. (Foto: RRI/Dania)
Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat menimba ilmu. Dengan konsep berbasis asrama, sekolah ini memberi fasilitas lengkap mulai dari kamar tidur, ruang makan, hingga lapangan olah raga semuanya gratis. Para siswa berasal dari sembilan kabupaten/kota di Jawa Tengah dan masuk tanpa seleksi akademik ketat, melainkan berdasarkan kriteria sosial yang ditetapkan pemerintah.
Luthfi menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pendidikan di Sekolah Rakyat. “Anak-anak ini bukan hanya butuh akademik, tapi juga pendampingan moral. Kalau perlu, kita datangkan psikolog dan teknisi poli untuk membantu kesiapan mental mereka,” katanya.
Dengan wajah cerah dan semangat yang menggebu, Rifki Wibowo menatap halaman luas tempat ia kini menimba ilmu. Remaja asal Sragen itu menjadi satu dari 850 siswa terpilih yang mendapat kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat 17 Surakarta Menengah Atas.
Ia bergabung di program afirmasi sosial yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memberantas kemiskinan ekstrem lewat pendidikan. Meski harus meninggalkan keluarganya, bagi Rifki, kesempatan ini menjadi titik balik hidupnya.
“Awalnya sedih pisah dari orang tua, tapi sekarang senang. Fasilitasnya lengkap, ada lapangan bola juga. Harapannya bisajadi orang sukses dan mandiri,” ucapnya.
Kisah Rifki hanyalah satu dari ratusan cerita perjuangan yang kini bersemi di lingkungan Sekolah Rakyat. Cerita lain juga datang dari Sekolah Rakyat jenjang Sekolah Dasar di Surakarta.
Kisah Nailla Marsha Nabila misalnya. Gadis 11 tahun asal Solo yang baru pertama kali duduk di bangku sekolah dasar melalui Sekolah Rakyat Dasar 2 Surakarta.
“Dulu belum sekolah. Sekarang senang, banyak teman, penginjadi dokter,” katanya polos sambil menggenggam pensil warna kesayangannya.
Sementara Tukiyem, seorang nenek asal Karanganyar . Meski sedih harus berpisah dengan cucunya, ia ikhlas menitipkan keturunannya yang telah yatim piatu tersebut, di Sekolah Rakyat.
“Biar jadi anak sukses. Pemerintah sudah bantu, saya senangsekali,” ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Siswa Sekolah Rakyat makan siang bersama. (Foto: RRI/Dania)
Namun, di balik semangat besar itu, sejumlah tantangan masih dihadapi. Patricia Antianovin, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, mengungkap keterbatasan tenaga keamanan dan pembina ekstrakurikuler.
“Hanya ada enam petugas keamanan untuk menjaga 200 siswaberasrama,” katanya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Respati Ardi menyatakan siap menambah dukungan melalui Satpol PP dan Satgas Keamanan, serta mendorong kolaborasi dengan sektor swasta untuk memperkuat kegiatan ekstrakurikuler. Koordinasi dengan fasilitas kesehatan juga diperkuat melalui Puskesmas Setabelanyang bekerja sama dengan RS Moewardi dan RS Bung Karno.
Keberadaan Sekolah Rakyat menjadi bukti nyata implementasi Asta Cita Presiden Prabowo-Gibran, terutama dalam agenda pengentasan kemiskinan ekstrem melalui pendidikan.
Di Surakarta sendiri, terdapat dua sekolah rakyat yakni Sekolah Rakyat SMA 17 dan Sekolah Rakyat Dasar 2. Tahun depan, Pemerintah Kota Surakarta menargetkan seluruh siswa Sekolah Rakyat dapat belajar di gedung permanen dengan fasilitas lebihmemadai.
Dengan dukungan berbagai pihak, Sekolah Rakyat diharapkan bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga jembatan mimpi bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem agar mampu menatap masa depan dengan optimisme dan percaya diri. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....