Optimalisasi Pariwisata Sektor Unggulan Dongkrak PAD
- 09 Apr 2026 22:46 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta -Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan dalam upaya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) di berbagai wilayah, termasuk di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Ironisnya, komentar pada buletin Warta Pagi RRI Surakarta Kamis (10 April 2026) yang disampaikan Agus Yoga, pariwisata Kabupaten Karanganyar tak lagi menjadi magnet wisatawan. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, daerah di lereng Gunung Lawu ini tereliminasi dari jajaran destinasi unggulan dan kini terseok di peringkat ke-25.
Kondisi itu menunjukan, pariwisata masalah di Karanganyar bukan sekadar potensi, melainkan pengelolaan. Bahkan yang lebih memprihatinkan, pada momentum Lebaran 2026 yang seharusnya menjadi puncak kunjungan justru memperlihatkan trend penurunan.
Padahal dengan potensi alam, budaya, dan kreativitas masyarakat lokal, destinasi wisata dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi regional.
Terus upaya apa supaya pariwisata mampu mendatang pengunjung baik domestik maupun manca negara secara siknifikan
”Pariwisata harus seperti entertainer, bukan birokrat tulen. Sehingga perlu adanya kolaborasi di internal pemerintah itu sendiri maupun di tingkat pelaku usaha. Langkah itu untuk menggeser pendekatan birokratis menjadi lebih kreatif dan berorientasi pada pengalaman pengunjung,” pesan pada komentar itu.
Agar pariwisata mampu memberikan kontribusi maksimal terhadap PAD, Agus Yoga juga sebagai redaktur rri.co.id itu berharap, pemerintah daerah perlu menerapkan strategi komprehensif yang mencakup perencanaan, pengembangan infrastruktur, pemasaran, manajemen kualitas, hingga inovasi produk wisata.
Menurutnya, pariwisata berbasis keunggulan lokal merupakan fondasi dari pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan berkeadilan. Konsep ini tidak sekadar memanfaatkan potensi geografis atau budaya sebagai objek wisata, tetapi mengangkat kekhasan lokal menjadi identitas destinasi. Hal ini memungkinkan setiap daerah menonjolkan keunikan yang tidak bisa dikomodifikasi secara massal.
Dicontohkan, suatu desa yang memiliki ritual adat langka bisa mengemasnya menjadi atraksi budaya tahunan yang dinanti wisatawan, dengan tetap menjunjung nilai sakral dan partisipasi komunitas.
Praktiknya, pendekatan ini menuntut pemetaan potensi berbasis partisipatif, di mana masyarakat lokal menjadi sumber informasi utama dan mitra perencana. Keunggulan lokal tidak selalu harus spektakuler secara visual, tetapi cukup autentik dan bermakna. Seperti, desa dengan tradisi menenun bisa dikembangkan menjadi desa wisata kriya, di mana wisatawan tidak hanya membeli kain tetapi juga belajar menenun bersama pengrajin.
Agus Yoga berpandangan, nilai tambah tercipta dari pengalaman otentik dan hubungan emosional yang dibangun antara wisatawan dan komunitas lokal. Sehingga pemerintah daerah perlu menyusun Master Plan Pariwisata Daerah berbasis keunggulan, yang memuat visi jangka panjang, arah pengembangan kawasan, strategi konservasi, dan peta investasi.
Master Plan inilah menjadi dokumen hidup yang diperbaharui secara berkala, seiring dinamika tren wisata dan perubahan kondisi sosial-ekonomi.
Dengan cara itu, pembangunan pariwisata tidak sekadar mengejar jumlah kunjungan, tetapi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan pelestarian identitas budaya,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....