Polemik Menjadi WNI di tengah Ambisi Global

  • 24 Feb 2026 05:25 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Polemik soal kewarganegaraan kembali mengemuka, di tengah derasnya arus globalisasi dan kebutuhan tenaga ahli lintas negara. Isu “menjadi atau tetap sebagai Warga Negara Indonesia (WNI)” kerap muncul ketika profesional muda Indonesia memilih meniti karier di luar negeri.

Salah satu refleksi itu disampaikan oleh Dandi Alvayed, MSc., mahasiswa PhD King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM) yang tengah merancang arah kariernya di sektor energi global.

Kepada RRI.CO.ID Dandi Alvayed mengatakan rencananya untuk menapaki jalur karier overseas dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Pilihan tersebut bukan semata ambisi pribadi, melainkan strategi untuk tetap relevan di tengah perubahan lanskap energi dunia yang semakin kompleks.

Namun, di balik rencana global itu, terselip kegelisahan yang sering dialami diaspora profesional: bagaimana posisi kebangsaan dipahami ketika karier berkembang lintas batas negara. Rencana overseas bukan berarti menanggalkan identitas. Ini soal membangun kompetensi dan rekam jejak global.

Ia menekankan bahwa bekerja di luar negeri kerap dipersepsikan publik sebagai langkah menjauh dari tanah air, bahkan memunculkan stigma “tidak nasionalis”, padahal realitasnya lebih berlapis.

Polemik ini menguat seiring meningkatnya kebutuhan tenaga ahli dengan latar pendidikan lanjut, seperti magister dan doktor, yang diprediksi melonjak signifikan menjelang 2030. Dalam sektor energi, khususnya oil and gas dan transisi energi, perubahan geopolitik, teknologi, dan kebijakan membuat pengalaman global menjadi nilai tambah strategis. Di sinilah dilema muncul: ketika profesional Indonesia diterima dan dibutuhkan di luar negeri, muncul pertanyaan publik tentang loyalitas dan status kewarganegaraan.

Dandi Alvayed, yang sekaligus Vice Director PPI Dunia R&D memandang, keputusan untuk tetap menjadi WNI atau tidak seharusnya tidak disederhanakan. “Jika suatu hari tanah air memanggil, saya ingin pulang dengan nilai tambah yang nyata, bukan sekadar cerita.

Ia menilai Indonesia masih membutuhkan technical expertise dengan rekam jejak global, terutama di perusahaan strategis seperti Pertamina, yang menghadapi tantangan ketahanan energi sekaligus transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, pengalaman lintas negara tidak otomatis menjadikan seseorang “lebih baik”, tetapi exposure global kerap memperkaya perspektif, standar kerja, serta kemampuan problem solving yang relevan untuk konteks nasional.

Pandangan ini sekaligus menjadi kritik atas narasi sempit yang sering muncul dalam polemik kewarganegaraan, seolah pilihan berkarier di luar negeri identik dengan menjauh dari kepentingan bangsa.

Di sisi lain, Dandi juga menegaskan sikap personalnya yang menempatkan ikhtiar dan tawakal secara seimbang. Perencanaan matang, menurutnya, bukan bentuk ambisi berlebihan, melainkan tanggung jawab pribadi menghadapi masa depan. Soal di mana akhirnya berlabuh tetap di luar negeri atau kembali ke Indonesia, Ia menyerahkannya pada kehendak Tuhan setelah usaha maksimal dilakukan.

Polemik menjadi WNI di tengah karier global, pada akhirnya, mencerminkan tantangan Indonesia dalam memaknai diaspora. Apakah mereka dipandang sebagai “kehilangan”, atau justru sebagai aset yang suatu saat dapat kembali membawa solusi.

Refleksi Dandi menunjukkan bahwa di balik setiap keputusan profesional, ada pertarungan nilai, identitas, dan harapan untuk tetap bermanfaat bagi tanah air, ke mana pun langkah karier membawa.

Rekomendasi Berita