Cahaya Ramadan Kaum Marjinal, Wepose Indonesia Bina Karakter Anak Kota Surabaya

  • 03 Mar 2026 16:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Di sela deru kereta yang melintas dan gemuruh Kota Surabaya yang tak pernah benar-benar tidur, tawa anak-anak itu terdengar renyah. Mereka tinggal di bantaran rel KA Kampung Lumumba Dalam, Kelurahan Ngagel, Kecamatan Wonokromo, ruang sempit yang bagi sebagian orang hanya terlihat sebagai garis pinggir kota. Namun bagi mereka, di sanalah mimpi-mimpi kecil mulai dirawat.

Sekitar 50 anak marjinal di bantaran rel Kampung Lumumba Dalam Buntu, RT 01 RW 01, Kelurahan Ngagel, mendapat pendampingan pendidikan dan sosial dari komunitas Wepose Indonesia pada momentum Ramadan 1447 Hijriah/2026.

Kegiatan yang digelar di balai serbaguna kampung tersebut tidak hanya membahas pelajaran sekolah, tetapi juga pendidikan karakter, tata krama, hingga pengelolaan emosi. Suasana belajar berlangsung sederhana dengan tikar yang digelar, diiringi diskusi ringan dan buka puasa bersama.

Anak anak di kampung Lumumba Dalam Buntu, RT 01 RW 01, Kelurahan Ngagel, mendapat pendampingan pendidikan dan sosial dari komunitas Wepose Indonesia pada momentum Ramadan 1447 Hijriah/2026, Pada Sabtu (28/2/2026). (Foto: Dokumen/RRI Andri Santoso).

Founder Wepose Indonesia Tabitha Naema Christy, mengatakan pendampingan rutin dilakukan setiap akhir pekan, baik kepada anak-anak maupun orang tua mereka. “Kalau kegiatan rutin, kami mengajar anak-anak dan juga orang tuanya. Ada kelas ‘Parent Up’ untuk para orang tua. Kami juga punya program ‘We Go Outside’, seperti Sabtu lalu, anak-anak kami ajak belajar di luar,” ujar Tabitha kepada RRI, Selasa, 3 Februari 2026.

Menurutnya, materi yang diberikan tidak hanya akademik, tetapi juga hal-hal yang jarang didapat di sekolah formal, seperti pendidikan sesuai usia, sopan santun, serta regulasi emosi. “Setiap akhir pekan kami mengajar tentang hal-hal yang tidak dipelajari di sekolah, misalnya, manner, dan pengelolaan emosi,” katanya.

Anak anak di kampung Lumumba Dalam Buntu, RT 01 RW 01, Kelurahan Ngagel, mendapat pendampingan pendidikan dan sosial dari komunitas Wepose Indonesia pada momentum Ramadan 1447 Hijriah/2026. (Foto: Dokumen/Wepose Indonesia)

Selain anak-anak, pendampingan juga menyasar orang tua melalui kelas “Parent Up”. Dalam kelas ini, orang tua diajak memahami pola asuh sehat dan pentingnya komunikasi dalam keluarga.

“Perubahan tidak bisa hanya dari anaknya saja. Orang tua juga harus bertumbuh,” ucapnya.

Wepose Indonesia berdiri sejak 24 Oktober 2019 dan secara konsisten mendampingi anak-anak di wilayah yang membutuhkan perhatian, seperti bantaran rel, kawasan pesisir Kenjeran, area pasar Keputran dan Pasar Turi, hingga sekolah-sekolah terpencil. “Karena kami komunitas peduli anak marjinal, kami memilih wilayah-wilayah yang memang membutuhkan perhatian, meski berada di tengah kota,” ujar Tabitha.

Seluruh kegiatan komunitas ini berjalan dari iuran para relawan serta kolaborasi dengan berbagai pihak. “Pendanaan dari pribadi kami, kakak-kakak relawan iuran. Mengajar itu tidak perlu uang banyak, tapi butuh ide dan waktu,” ujarnya.

Salah satu peserta, Rahma, siswa kelas 1 SMP, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. “Kami diajari membuat lampion, menggambar, dan menulis dengan baik. Kami sangat senang,” katanya.

Hal senada disampaikan Muhammad Rofi’i, siswa kelas 3 SD, yang pada Ramadan ini mendapat kesempatan mengumandangkan azan magrib. “Senang belajar dengan kakak-kakak, jadi tambah pengetahuan,” ucapnya.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Tabitha berharap gerakan serupa dapat tumbuh di berbagai daerah sebagai bagian dari peran pemuda dalam mendorong perubahan sosial.

“Harapannya tidak hanya di satu titik ini saja, tapi bisa berkembang di Surabaya dan seluruh Indonesia. Peran pemuda sangat dibutuhkan sebagai katalisator perubahan,” tuturnya.

Rekomendasi Berita