Tujuh Kali Ditolak, Sabathania Bangkit dan Tembus LPDP
- 21 Feb 2026 19:22 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Kegagalan kerap dipandang sebagai akhir dari sebuah perjuangan, terutama di dunia akademik dan kewirausahaan yang kompetitif. Namun, bagi Sabathania, kegagalan justru menjadi bagian dari proses pembelajaran menuju tujuan yang lebih besar.
Sabathania, seorang ibu, dokter gigi, sekaligus penulis lima buku anak, kini menempuh studi MSc Entrepreneurship di University College London. Prestasi tersebut diraihnya setelah melewati perjalanan panjang dengan tujuh kali penolakan dari beasiswa bergengsi seperti LPDP, Australia Awards Scholarships (AAS), dan Chevening.
“Saya sempat merasa gagal berkali-kali, tapi kemudian sadar bahwa penolakan bukan akhir segalanya. Itu hanya tanda bahwa saya perlu memperbaiki diri,” ujarnya saat diwawancarai RRI.CO.ID, Sabtu, 21 Februari 2026.
Perubahan cara pandang itulah yang menjadi titik balik keberhasilannya. Ia mulai melihat kegagalan sebagai proses hidup yang seimbang dan ruang untuk melakukan iterasi diri. Alih-alih berjuang sendirian, Sabathania memilih menggandeng mentor-mentor berpengalaman untuk membedah esai dan mempersiapkan diri menghadapi wawancara.
“Mentor sangat berperan dalam perjalanan saya. Dari mereka, saya belajar menyusun esai yang jujur dan kuat, serta melatih mental lewat mock interview berkali-kali sampai benar-benar siap,” jelasnya.
Kejujuran terhadap diri sendiri menjadi fondasi penting dalam aplikasinya. Sabathania secara terbuka mengakui adanya academic gap saat membangun startup edukasi Hai Booca. Ia merasa masih lemah dalam aspek bisnis fundamental, khususnya finansial dan akuntansi.
“Saya sadar bahwa niat baik saja tidak cukup. Hai Booca butuh fondasi bisnis yang kuat agar dampaknya bisa berkelanjutan, terutama bagi anak-anak usia dini dan Anak Berkebutuhan Khusus,” ungkapnya.
Kesadaran tersebut ia tuangkan dalam esai beasiswa sebagai alasan utama memilih studi S2 di bidang Entrepreneurship. Menurutnya, pendidikan lanjutan bukan sekadar mengejar gelar, melainkan sarana untuk memperkuat dampak sosial yang telah ia rintis.
Kini, di tengah kesibukannya di London, Sabathania terus mengembangkan alat edukasi inovatif untuk ABK sembari berbagi semangat kepada para pejuang beasiswa lainnya. Pesannya sederhana namun mendalam.
“Jangan takut gagal dan jangan ragu mencari teman seperjuangan. Support system itu penting,” tegasnya.
Kisah Sabathania menjadi pengingat bahwa meraih beasiswa dan menembus kampus impian bukan hanya soal kepintaran akademik, tetapi tentang ketangguhan menjadikan setiap kegagalan sebagai bahan bakar untuk terus melangkah maju.