​Dari Mojokerto, Api Budaya Nusantara Kembali Menyala

  • 01 Nov 2025 13:34 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Mojokerto: Udara dingin Pacet malam itu tak menyurutkan semangat ratusan budayawan yang datang dari berbagai daerah. Di bawah temaram lampu Pendopo Yayasan Bima Sakti Peduli Negeri, mereka hadir, bukan sekadar berkumpul, tapi menyatukan tekad: melawan kepunahan budaya Nusantara.

Sarasehan Budaya yang digelar Jumat malam (31/10/2025) itu mengusung tema besar “Melawan Kepunahan Budaya Nusantara untuk Meningkatkan Kualitas Manusia dan Daya Saing Bangsa.” Tak sekadar seremoni, forum ini menjadi ruang pertemuan gagasan antara para pelaku budaya, seniman, dan anak muda yang peduli pada jati diri bangsa.

Salah satu yang tampak sibuk di antara mereka adalah Ibnu Sunanto, budayawan sekaligus pegiat acara. Dengan nada tenang, ia berbicara tentang akar masalah yang sering dilupakan: kesadaran masyarakat.

“Kalau budaya masih dianggap sesuatu yang ketinggalan zaman, bagaimana mungkin orang mau melestarikannya?” ujarnya.

Ibnu percaya, pelestarian budaya bukan soal masa lalu, tapi tentang cara bangsa ini menatap masa depan. Ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang, agar budaya tak lagi sekadar warisan, melainkan sumber kekuatan dan daya saing bangsa.

Namun, Ibnu tahu perjuangan ini tak bisa sendirian. Setelah kesadaran tumbuh, langkah berikutnya adalah membangun jejaring komunitas budaya. Di titik ini, generasi muda memegang peran penting.

“Teknologi digital harus jadi jembatan, bukan jurang. Dari sanalah gerakan budaya bisa diperluas dan diwariskan,” katanya.

Di sudut lain pendopo, Imam Ghozali, Ketua Komunitas Tombo Ati Jawa Timur, menatap api unggun yang mulai mengecil. Suaranya pelan tapi tegas saat berbicara tentang ancaman yang dihadapi bangsa.

“Kita ini sedang menghadapi perang kebudayaan,” katanya. “Bukan perang fisik, tapi perang cara berpikir, perang identitas, perang karakter.”

Menurut Imam, peninggalan leluhur bukan sekadar benda kuno atau tarian tradisional, tapi sumber kekuatan spiritual bangsa. Bila kehilangan itu, Indonesia kehilangan arah.

Malam semakin larut, namun diskusi tak kunjung surut. Di sela tawa dan obrolan ringan, terselip semangat yang sama: menjaga kebudayaan agar tetap hidup. Mereka sadar, tugas ini panjang dan tidak mudah, tapi dari sinilah langkah kecil dimulai.

Dari Pacet, Mojokerto, suara para budayawan itu seperti menggaung ke seluruh Nusantara mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, melestarikan budaya bukan sekadar menjaga masa lalu, tapi memastikan masa depan tetap punya jati diri.

Rekomendasi Berita