Santri dan Cahaya Perdamaian di Tengah Perubahan Zaman
- 23 Okt 2025 12:42 WIB
- Surabaya
LKBRN, Mojokerto: Suasana di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, terasa berbeda. Ratusan santri berseragam putih bersih tampak khusyuk mengikuti Apel Akbar Hari Santri Nasional (HSN) di lapangan Pesantren, Rabu (22/10/2025) pagi.
Para santri menampilkan ilmu-ilmu keagaman, akademik hingga seni keagamaan yang telah diajarkan dalam kegiatan pesantren, sementara lantunan ayat suci Al-Qur’an bergema lembut dari sound sistem acara.
Di tengah suasana penuh semangat itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), KH Asep Saifuddin Chalim, menyampaikan pesan mendalam, santri harus menjadi pelopor perdamaian di tengah perubahan zaman.
Bagi Kiai Asep, pesantren kini tengah menjalani masa transformasi besar. Tak lagi sekadar tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan moralitas generasi muda sekaligus menanamkan nilai kebangsaan yang kuat. Hal itu telah terbukti sejak sebelum Indonesia merdeka hingga peran santri dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari para penjajahan.
"Pesantren harus menjaga nilai luhurnya, tapi juga memperkaya diri dengan keilmuan modern. Baik dalam belajar, berkomunikasi, maupun bersosial," ujarnya penuh keyakinan.
Pandangan itu lahir dari kesadaran bahwa dunia tengah berubah dengan cepat. Teknologi, informasi, dan gaya hidup baru menuntut santri untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral.
Dalam pandangan Kiai Asep, kekuatan sejati santri bukan terletak pada gelar akademik atau prestasi pribadi, melainkan pada tanggung jawab moral terhadap bangsa dan kemanusiaan.
"Tanggung jawab santri itu besar, menjaga keselamatan, kenyamanan, dan kedamaian bangsa, bahkan dunia," tegasnya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap menimbulkan gesekan sosial, nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan cinta damai yang diajarkan di pesantren menjadi oase moral bagi masyarakat. Para santri diajarkan untuk menebarkan kasih, menahan amarah, serta memupuk rasa persaudaraan lintas perbedaan.
"Bagi santri, pesan itu bukan sekadar nasihat, namun menjadi arah perjuangan. Mereka belajar bahwa menjadi santri berarti siap berdiri di garis depan menjaga nilai-nilai kebaikan, membawa cahaya perdamaian di tengah kegelapan zaman," imbuh nya.
Pada momen HSN kali ini, Kiai Asep berharap transformasi di pesantren dengan menerapkan nilai keagamaan dan moral yang ungul, utuh, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, dapat terwujud diseluruh pendidikan pesantren di Nusantara ini.
"Itulah transformasi yang akan kita intensifkan diseluruh pesantren yang ada di Indonesia," harapnya.