Perilaku Keuangan Gen Z di Era Digital
- 05 Nov 2025 13:26 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Perubahan zaman yang sangat cepat membawa dampak besar terhadap perilaku keuangan Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini tumbuh dalam lingkungan ekonomi dan sosial yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya, yaitu di tengah kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, serta tekanan sosial media yang kuat. Topik ini diangkat dalam siaran Dialog Ekonomi di 96,8 FM Pro 4 RRI Surabaya, Rabu (5/11/2025), menghadirkan narasumber Tyasha Ayu Melynda Sari, S.E., M.A., CPFRA, Sekretaris Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Tyasha menjelaskan, karakter finansial Gen Z terbentuk oleh pengalaman hidup di era digital dan pandemi. “Generasi Z pernah mengalami masa COVID-19 yang memaksa mereka berada di rumah, padahal secara sosial mereka butuh berinteraksi dan berekspresi. Setelah pandemi, muncul keinginan besar untuk menikmati pengalaman seperti nongkrong, traveling, atau belanja online. Hal ini tentu berpengaruh pada cara mereka mengatur keuangan,” ungkapnya.
Menurut Tyasha, kemajuan teknologi memberikan dua sisi bagi Gen Z. Di satu sisi, media sosial membuka peluang ekonomi baru seperti menjadi content creator, affiliate marketer, dan pekerja freelance. Namun di sisi lain, media sosial juga memunculkan tekanan sosial untuk selalu tampil eksis. “Sering kali mereka merasa harus mengikuti tren agar tidak ketinggalan. Fenomena fear of missing out atau FOMO ini memicu perilaku konsumtif dan pengeluaran impulsif,” jelasnya.
Meski begitu, Tyasha menilai banyak Gen Z yang mulai sadar pentingnya literasi keuangan dan investasi sejak dini. “Anak muda sekarang tidak hanya tahu cara belanja digital, tapi juga mulai paham cara mengelola uang. Mereka belajar investasi lewat TikTok, YouTube, atau podcast. Akses informasi ini luar biasa cepat,” ujarnya. Ia menambahkan, platform digital kini memungkinkan siapa pun untuk berinvestasi dengan modal kecil, bahkan mulai dari Rp10.000.
Berbagai instrumen investasi seperti reksadana digital, saham, emas digital, hingga cryptocurrency menjadi favorit di kalangan Gen Z. Namun, Tyasha mengingatkan, tingginya minat investasi tidak selalu diimbangi dengan pengetahuan yang memadai. “Banyak yang ikut investasi hanya karena tren atau ajakan influencer. Ini berbahaya karena bisa menimbulkan kerugian jika tidak memahami risikonya,” katanya.
Ia menilai bahwa penguatan literasi keuangan menjadi kunci agar generasi muda tidak hanya konsumtif, tetapi juga produktif secara finansial. “Edukasi keuangan seharusnya dimulai sejak bangku sekolah dan kampus, dengan pendekatan digital dan interaktif. Gen Z perlu diarahkan untuk memiliki tujuan keuangan yang jelas, bukan sekadar mengikuti gaya hidup,” tegas Tyasha.
Tyasha juga menyoroti pentingnya peran lingkungan dan media sosial dalam membentuk perilaku keuangan generasi muda. “Kalau medsos digunakan secara bijak, biaya internet yang dikeluarkan tidak akan sia-sia. Tapi kalau hanya untuk konsumsi dan ikut-ikutan, justru bisa jadi beban keuangan,” ujarnya mengingatkan.
Pada akhirnya, perilaku keuangan Gen Z mencerminkan adaptasi terhadap dunia yang serba digital dan cepat berubah. Mereka memiliki potensi besar untuk menjadi generasi mandiri secara finansial, asalkan dibekali dengan literasi, kedisiplinan, dan kemampuan mengelola uang yang cerdas. “Gen Z bukan generasi boros, mereka hanya perlu diarahkan agar bisa menyeimbangkan antara gaya hidup dan tanggung jawab finansial,” tutup Tyasha.