Cek Fakta: Begadang Sebabkan Pecah Pembuluh Darah

  • 30 Jul 2025 07:49 WIB
  •  Surabaya

‎KBRN,Surabaya: Maraknya informasi di media sosial yang mengaitkan kebiasaan begadang secara langsung dengan pecahnya pembuluh darah telah menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, menurut Dr. Prastiwi, seorang dokter spesialis penyakit dalam di Surabaya, klaim tersebut perlu diluruskan. "Begadang tidak secara langsung menyebabkan pecahnya pembuluh darah," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa meskipun bukan penyebab langsung, begadang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang menjadi pemicu pecahnya pembuluh darah, seperti tekanan darah tinggi dan stroke. Lebih lanjut, Dr. Prastiwi memaparkan mekanisme di balik peningkatan risiko tersebut.

Kurang tidur akibat begadang dapat memicu serangkaian efek negatif pada tubuh, termasuk peningkatan tekanan darah, peradangan, dan gangguan keseimbangan hormon. "Semua ini merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular," tegasnya. Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, khususnya, merupakan faktor risiko utama untuk stroke. Kebiasaan begadang yang dilakukan berulang kali dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah secara signifikan.

‎Dampak negatif begadang tidak berhenti di situ. Kurang tidur juga dapat mengganggu metabolisme tubuh. "Akibat begadang atau kurang tidur ini tubuh menjadi resisten terhadap insulin dan meningkatkan kadar gula darah, yang dapat memicu diabetes," ucap Dr. Prastiwi.

Kondisi diabetes sendiri merupakan ancaman serius bagi kesehatan kardiovaskular, karena dapat memicu gangguan irama jantung, meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, dan memperburuk kerusakan pada pembuluh darah. Selain dampak fisik, Dr. Prastiwi juga menyoroti efek begadang pada fungsi kognitif dan kesehatan mental.

"Kurang tidur dapat mengganggu fungsi otak, mengurangi konsentrasi, memori, dan kewaspadaan," katanya. Lebih jauh lagi, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, yang turut mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

‎Menyikapi berbagai risiko kesehatan yang terkait dengan kebiasaan begadang, Dr. Prastiwi secara tegas mengajak para remaja, khususnya, untuk memprioritaskan istirahat yang cukup.

"Tidur malam yang cukup sekitar 7-8 jam penting untuk pemulihan tubuh, termasuk perbaikan sel dan fungsi organ, serta menjaga keseimbangan hormon dan fungsi otak," ucapnya. Kualitas tidur yang baik sangat krusial untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.

‎Dr. Prastiwi menekankan kembali pentingnya pemahaman yang benar mengenai begadang dan dampaknya. "Meskipun begadang tidak secara langsung menyebabkan pecahnya pembuluh darah, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit yang menjadi faktor pemicu stroke dan masalah kesehatan lainnya," katanya.

Oleh karena itu, menjaga pola tidur yang cukup dan berkualitas adalah langkah fundamental dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai komplikasi yang lebih serius.

Rekomendasi Berita