BMKG Juanda Ingatkan Waspada Cuaca Pancaroba di Jawa Timur
- 12 Mar 2026 13:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca pancaroba yang diperkirakan terjadi pada Maret hingga April 2026. Masa ini merupakan periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau yang ditandai dengan perubahan cuaca yang cepat dan berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.
Melalui akun instagram resminya @infobmkgjuanda BMKG menyampaikan, pada masa transisi ini langit pada pagi hari umumnya terlihat cerah dan panas, namun pada sore hingga malam hari sering terjadi hujan lebat secara tiba-tiba yang dapat disertai angin kencang.
Fenomena ini dikenal dengan istilah “siang menyengat, sore gawat”, yaitu kondisi ketika suhu udara terasa sangat panas pada siang hari namun berubah menjadi hujan deras dalam waktu singkat. Hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat berpotensi menimbulkan genangan di sejumlah wilayah, terutama di jalan protokol dan kawasan yang sistem drainasenya kurang optimal.
Selain hujan lebat, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi angin kencang dan puting beliung yang dapat terjadi secara tiba-tiba, khususnya di wilayah dengan bangunan semi permanen atau daerah terbuka. Petir yang menggelegar juga kerap menyertai hujan saat masa pancaroba, sehingga masyarakat diimbau menghindari area terbuka maupun berteduh di bawah pohon saat hujan turun.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi pancaroba ini dipengaruhi oleh melemahnya angin monsun Asia serta posisi semu harian matahari yang berada tepat di atas wilayah Indonesia pada bulan Maret. Hal tersebut menyebabkan suhu udara terasa lebih panas pada siang hari.
Sebagian kecil wilayah Jawa Timur diperkirakan telah memasuki masa pancaroba pada Maret ini, sementara sebagian besar wilayah lainnya diprediksi akan mengalaminya pada April mendatang.
Selain potensi cuaca ekstrem, perubahan suhu yang cukup drastis juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Pada masa pancaroba, risiko penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) meningkat karena nyamuk lebih aktif berkembang di genangan air sisa hujan. Selain itu, kasus flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga berpotensi meningkat akibat debu dan perubahan suhu yang signifikan.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih guna menghindari dehidrasi akibat cuaca panas pada siang hari.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diimbau untuk memeriksa kondisi atap rumah dan memangkas dahan pohon yang terlalu rimbun atau rapuh agar tidak membahayakan saat terjadi angin kencang.
Saluran air juga perlu dibersihkan dari sampah agar tidak terjadi genangan saat hujan deras turun.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk selalu menyiapkan payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar rumah serta mulai menghemat penggunaan air dengan menampung air hujan sebagai cadangan apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
BMKG Juanda mengajak masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG maupun akun resmi media sosial guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, diharapkan masyarakat dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh perubahan cuaca ekstrem di Jawa Timur.