Petani Lamongan Minta Bantuan Rice Transplanter Tekan Biaya
- 11 Mar 2026 18:34 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Petani di Kabupaten Lamongan berharap pemerintah dapat membantu penyediaan alat pertanian modern berupa rice transplanter atau mesin tanam padi. Alat tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus mempercepat proses tanam.
Pengurus Kelompok Tani Asung Kamulyan Desa Sidomulyo, Kecamatan Mantup, Lamongan, Syaiful Bukhori mengatakan penggunaan rice transplanter memberikan banyak keuntungan bagi petani, terutama dari sisi efisiensi biaya.
Menurutnya, proses tanam padi secara manual masih membutuhkan banyak tenaga kerja sehingga biaya yang dikeluarkan cukup besar.
“Kalau menanam secara manual, sekali tanam bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 7 juta karena harus membayar banyak tenaga kerja. Tapi kalau menggunakan rice planter, biayanya bisa ditekan menjadi sekitar Rp 3 juta sampai Rp 3,5 juta,” kata Syaiful, Rabu (12/3/2026).
Selain lebih hemat biaya, penggunaan mesin tanam padi juga membuat proses penanaman menjadi lebih cepat dan rapi. Dengan pola tanam yang lebih teratur, pertumbuhan tanaman padi dinilai bisa lebih optimal.
Meski memiliki banyak manfaat, keberadaan rice transplanter masih tergolong terbatas di kalangan petani. Tidak semua kelompok tani memiliki akses terhadap alat tersebut sehingga sebagian besar petani masih melakukan penanaman secara manual.
Syaiful mengungkapkan pihaknya sudah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan alat tersebut kepada dinas pertanian dan pihak terkait, namun hingga kini belum mendapatkan bantuan.
“Kami sebenarnya sangat berharap ada bantuan rice planter dari pemerintah. Pengajuan sudah kami lakukan ke dinas pertanian dan pihak terkait lainnya, tapi sampai sekarang bantuan itu belum juga datang,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan petani, khususnya dalam penyediaan alat pertanian modern yang mampu meningkatkan efisiensi produksi serta kesejahteraan petani.
Menurutnya, jika alat seperti rice transplanter bisa dimanfaatkan lebih luas oleh petani, biaya produksi dapat ditekan dan proses tanam menjadi lebih cepat. Hal ini juga dinilai dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan di daerah..