Ramadan Momentum Raih Derajat Taqwa

  • 04 Mar 2026 06:42 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Bulan Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan haus, tetapi ruang pembinaan iman untuk meraih derajat takwa. Hal itu disampaikan Ustaz Amirullah, Dai PD Persis Sumenep dalam tausiyahnya terkait makna keistimewaan Ramadan bagi umat Islam.

Ia menegaskan, umat Muslim patut bersyukur karena kembali diberi kesempatan bertemu Ramadan. Kesempatan ini tidak otomatis datang setiap tahun bagi setiap orang, sehingga harus dimaknai sebagai panggilan khusus dari Allah SWT.

“Dalam Al-Qur’an, Allah memanggil langsung orang-orang beriman saat memerintahkan puasa. Ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bertumpu pada iman,” ujarnya saat menjadi narasumber program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Rabu, 4 Maret 2026.

Ustaz Amirullah merujuk Surah Al-Baqarah ayat 183: “Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.” (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Menurutnya, frasa “wahai orang-orang yang beriman” menjadi penegasan bahwa Ramadan adalah ibadah berbasis keyakinan. Tanpa iman, mustahil seseorang mampu bertahan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Secara umum, Ramadan juga memiliki sejumlah keistimewaan. Di bulan ini, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Selain itu, terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Qadr. Ramadan juga dikenal sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Ia menjelaskan, tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. Namun, ketakwaan tidak otomatis diperoleh hanya karena status keislaman. “Tidak semua yang identitasnya Muslim otomatis meraih takwa. Takwa adalah hasil dari kesungguhan menjalankan ibadah dengan dasar iman dan doa,” katanya.

Ustaz Amirullah mengingatkan, ada orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus tanpa perubahan sikap dan kualitas diri. Kondisi itu, menurutnya, menjadi kerugian karena esensi puasa tidak tercapai.

Hal tersebut sejalan dengan hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini menegaskan pentingnya iman dan keikhlasan sebagai fondasi ibadah.

Ia menambahkan, Ramadan adalah bulan pelipatgandaan pahala dan dikabulkannya doa-doa hamba. Karena itu, umat Islam diminta bersungguh-sungguh agar tidak melewatkan kesempatan meraih maghfirah Allah SWT.

“Ramadan adalah kebutuhan kita untuk kehidupan akhirat. Di bulan inilah kita dilatih menjadi hamba yang taat dan bertakwa,” tuturnya.

Melalui kesiapan iman dan ilmu, Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi jalan menuju derajat takwa.

Rekomendasi Berita