Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Hadiah Rp895 Miliar Berpotensi Dipotong Pajak AS
- 23 Jul 2026 09:25 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Spanyol membawa pulang gelar juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan skor 1-0. Kemenangan tersebut juga mengantarkan La Roja memperoleh hadiah sebesar USD50 juta atau sekitar Rp895 miliar dengan kurs Rp17.900 per dolar AS.
Namun, hadiah fantastis itu berpotensi tidak diterima secara utuh. Sebagian besar nilai hadiah tersebut dapat dikenai pajak federal Amerika Serikat hingga 30 persen karena turnamen berlangsung di wilayah AS.
Mengutip Fox News, Rabu (22/7), pendapatan yang berasal dari aktivitas yang dilakukan di Amerika Serikat pada umumnya menjadi objek pajak yang dipungut oleh Internal Revenue Service (IRS). Ketentuan itu juga berlaku bagi atlet asing non-residen dalam kondisi tertentu.
Aturan Pajak untuk Atlet Asing
Berdasarkan regulasi perpajakan Amerika Serikat, pembayaran kepada atlet asing yang tidak berstatus penduduk tetap umumnya dikenai pemotongan pajak federal sebesar 30 persen. Besaran tersebut dapat berubah apabila terdapat perjanjian perpajakan atau pengecualian lain yang berlaku.
Kebijakan itu memicu sorotan dari sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat. Mereka menilai tarif pajak yang tinggi dapat memberikan citra kurang baik bagi negara yang menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional.
Tim Burchett Sebut Kebijakan Itu Perampokan
Anggota Kongres AS, Tim Burchett, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mengkritik potensi pemotongan pajak tersebut. Ia menilai kebijakan itu merugikan para atlet dan tim yang datang bertanding di Amerika Serikat.
"Saya rasa ini adalah perampokan," kata Burchett.
Menurut Burchett, pemerintah seharusnya mendorong atlet, suporter, dan pengunjung asing untuk membelanjakan uang mereka di Amerika Serikat, bukan justru membebani mereka dengan kewajiban pajak yang besar.
"Saya bukan pendukung IRS. Mereka menghasilkan banyak yang di sini, tapi saya tidak suka itu. Kami ingin mendorong orang-orang datang ke sini dan menghabiskan uang mereka, dan kita mengambil sebagian besar dari itu," ujarnya.
"Kita harus memiliki sistem pajak yang lebih baik," lanjutnya.
Kritik terhadap Sistem Perpajakan AS
Pandangan serupa juga disampaikan anggota Kongres Jonathan Jackson. Ia menilai potensi tarif pajak 30 persen atas hadiah juara Piala Dunia terlalu tinggi dan mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam sistem perpajakan Amerika Serikat.
"Ini salah, dan ini semacam menyoroti sesuatu yang lebih besar," kata Jackson.
Jackson berpendapat perusahaan semestinya menanggung beban pajak yang lebih besar dibandingkan para pekerja. Menurutnya, sistem perpajakan saat ini justru memberikan keuntungan melalui berbagai celah pajak yang tersedia bagi korporasi.
"Mereka seharusnya membayar pajak daripada memiliki celah pajak. Masyarakat, para pekerja yang bekerja, mereka seharusnya tidak membayar 30 persen pajak dari pendapatan mereka," kata Jackson.
Burgess Owens Soroti Dampak bagi Piala Dunia
Anggota Kongres Burgess Owens juga sepakat bahwa potensi pajak sebesar 30 persen terlalu tinggi. Meski demikian, ia tetap menilai penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat membawa dampak positif bagi perkembangan sepak bola.
Owens, yang merupakan mantan pemain NFL, mengaku turnamen tersebut membuatnya semakin menghargai sepak bola. Ia optimistis ajang itu dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap olahraga tersebut.
"Saya sangat menghargai sepak bola sekarang. Saya pikir ini akan menjadi pendobrak bagi banyak anak-anak kita. Jadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada presiden (Donald Trump) dan semua orang yang mewujudkan ini. Sayangnya, begitulah kenyataan di negara kita yang penuh pajak ini," kata Owens.
Perdebatan mengenai pajak hadiah Piala Dunia 2026 pun menambah sorotan terhadap sistem perpajakan Amerika Serikat. Di tengah upaya negara tersebut menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional, kebijakan fiskal terhadap atlet asing diperkirakan akan terus menjadi bahan pembahasan di ruang publik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....