Iran Tersingkir Dramatis dari Piala Dunia 2026

  • 29 Jun 2026 18:14 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Iran tersingkir dari Piala Dunia 2026 dengan cara yang menyakitkan. Tim asuhan Amir Ghalenoei gagal melangkah ke babak 32 besar meski tidak sekalipun menelan kekalahan sepanjang fase grup. Selisih gol menjadi penentu yang memaksa Tim Melli mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat.

Kegagalan tersebut terjadi setelah dua momen krusial pada penghujung pertandingan menghapus harapan Iran dalam waktu yang berdekatan. Situasi itu menjadi salah satu kisah paling dramatis sepanjang babak penyisihan grup turnamen.

Gol yang Dianulir Mengubah Nasib Iran

Iran membuka fase grup dengan hasil imbang melawan Selandia Baru dan Belgia. Kondisi itu membuat kemenangan atas Mesir menjadi syarat utama untuk memastikan tiket ke fase gugur.

Pada laga tersebut, Iran sempat tertinggal lebih dulu. Mereka mampu bangkit meski peluang emas melalui titik penalti yang dieksekusi Mehdi Taremi berhasil digagalkan penjaga gawang lawan.

Gol penyama kedudukan akhirnya lahir lewat penyelesaian cermat Ramin Rezaeian dari sudut sempit yang mengubah skor menjadi 1-1.

Memasuki masa tambahan waktu babak kedua, Shoja Khalilzadeh mencetak gol setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang Mesir. Selebrasi besar pun dilakukan, termasuk melepas kaus yang berujung kartu kuning serta berpose menggunakan kacamata hitam.

Namun euforia tersebut hanya berlangsung sesaat. Setelah melalui pemeriksaan, wasit menganulir gol karena posisi Khalilzadeh dinilai berada dalam keadaan offside. Keputusan itu diambil karena ujung kaki sang bek sedikit melewati garis bek kedua terakhir.

Laga pun berakhir imbang 1-1 dan membuat peluang lolos Iran harus ditentukan oleh hasil pertandingan lain.

Harapan Pupus Lewat Drama Menit Akhir

Nasib Iran bergantung pada pertandingan Aljazair kontra Austria. Kemenangan salah satu tim akan membuka jalan bagi Iran menuju babak 32 besar.

Pertandingan berlangsung sengit dan sempat mengarah pada hasil imbang 2-2, skor yang justru membuat Iran tersingkir.

Harapan kembali muncul ketika Riyad Mahrez membawa Aljazair unggul 3-2 pada menit ke-90+3. Hasil tersebut sempat menempatkan Iran di ambang kelolosan.

Namun, beberapa detik sebelum peluit panjang dibunyikan, Austria menyamakan kedudukan melalui sundulan Sasa Kalajdzic. Gol telat itu kembali mengubah klasemen dan memastikan Iran gagal melaju ke fase gugur.

Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, Iran dua kali kehilangan peluang lolos akibat drama yang terjadi pada menit-menit terakhir.

Berjuang di Tengah Berbagai Keterbatasan

Terlepas dari hasil akhir, pencapaian Iran dinilai tetap mengesankan mengingat berbagai hambatan yang mereka hadapi sepanjang turnamen.

Tim Melli menjalani Piala Dunia 2026 di tengah konflik negaranya dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap persiapan maupun mobilitas skuad selama kompetisi berlangsung.

Lokasi pemusatan latihan Iran dipindahkan dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, sebelum turnamen dimulai. Selain itu, aturan visa membuat mereka hanya diizinkan memasuki Amerika Serikat sehari sebelum dua pertandingan awal dan harus langsung meninggalkan wilayah tersebut setelah laga usai.

Baru pada pertandingan terakhir fase grup, pembatasan itu sedikit dilonggarkan sehingga Iran dapat tiba dua hari lebih awal. Meski demikian, mereka tetap diwajibkan kembali ke Tijuana setelah pertandingan selesai.

Kondisi tersebut membuat waktu persiapan tim jauh lebih terbatas dibandingkan kontestan lain.

Ghalenoei Kritik Perlakuan Tuan Rumah

Pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya sebagai peserta yang paling dirugikan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Menurutnya, Iran kehilangan banyak waktu latihan akibat berbagai pembatasan yang diberlakukan.

"Kepada para pemain dan tim, saya ingin mengatakan bahwa saya bangga kepada mereka," ujar Ghalenoei seusai pertandingan melawan Mesir.

"Apa yang telah dilakukan oleh para pemain muda ini, harus tercatat dalam sejarah karena negara tuan rumah memperlakukan kami dengan sangat tidak adil."

Ia juga menegaskan bahwa seluruh keterbatasan tersebut tidak menghalangi semangat para pemain untuk tampil maksimal.

"Terlepas dari semua masalah ini, kami mampu tampil baik dan dunia bangga dengan rakyat Iran dan tim kami."

Menutup pernyataannya, Ghalenoei meminta FIFA mengevaluasi penyelenggaraan turnamen agar situasi serupa tidak kembali dialami tim lain pada edisi Piala Dunia berikutnya.

"Saya mendesak FIFA, jangan biarkan negara tuan rumah memperlakukan pemain dan tim dengan cara yang sama di Piala Dunia mendatang," tegasnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....