Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Kenali Tanda-tanda Awalnya
- 22 Agt 2026 08:47 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh — Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan pada struktur jantung yang sudah ada sejak lahir. Kondisinya sangat beragam, mulai dari kelainan ringan yang hampir tidak menimbulkan gejala hingga kelainan kritis yang membutuhkan penanganan segera.
Kementerian Kesehatan menyebut PJB dapat ditemukan pada sekitar 8 dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Karena sebagian kasus tidak langsung menunjukkan gejala yang jelas, orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Kenali Gejala yang Muncul pada Anak
Gejala PJB bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan. Tidak semua anak dengan PJB akan tampak kebiruan atau mengalami gejala berat.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua antara lain mudah lelah, sesak napas, jantung berdebar, mudah pingsan, serta pertumbuhan yang terhambat. Anak juga dapat mengalami kesulitan menaikkan berat badan dan infeksi saluran pernapasan yang berulang.
Pada bayi, tanda yang lebih mudah diamati antara lain cepat lelah ketika menyusu, sering berhenti saat menyusu, napas cepat atau sulit bernapas, berkeringat berlebihan, serta berat badan yang sulit bertambah.
Sementara itu, perubahan warna menjadi kebiruan pada bibir atau kuku dapat menjadi tanda rendahnya kadar oksigen dalam darah. Namun, tidak semua PJB menyebabkan kebiruan.
Jangan Menunggu Anak Tampak Biru
Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa anak dengan PJB selalu memiliki kulit atau bibir kebiruan. Faktanya, sejumlah kelainan jantung bawaan dapat tidak menimbulkan warna kebiruan dan gejalanya justru berupa berat badan sulit naik, batuk-pilek berulang, atau bayi mudah lelah saat menyusu.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mengabaikan gejala yang berlangsung terus-menerus, terutama jika anak mengalami kombinasi beberapa tanda tersebut.
Pentingnya Deteksi Dini pada Bayi
Deteksi dini menjadi bagian penting dalam penanganan PJB. Salah satu metode skrining untuk PJB kritis pada bayi baru lahir adalah pulse oximetry, yaitu pemeriksaan kadar oksigen dalam darah menggunakan alat yang dipasang pada kulit bayi. Kadar oksigen yang rendah dapat menjadi petunjuk adanya PJB kritis.
| Baca juga: Bergamot, Buah Jeruk dengan Segudang Manfaat |
Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa hingga 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining menggunakan pulse oximetry. Sekitar 20.946 bayi atau 4,3 persen teridentifikasi memiliki indikasi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Namun, hasil skrining normal tidak selalu berarti seorang bayi pasti bebas dari seluruh jenis PJB. Beberapa kelainan dapat luput dari skrining sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila muncul gejala atau terdapat faktor risiko.
Kapan Anak Perlu Diperiksakan?
Orang tua sebaiknya membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila terdapat gejala seperti sesak napas, mudah lelah, sulit menyusu, berat badan sulit bertambah, sering pingsan, atau perubahan warna bibir dan kuku menjadi kebiruan.
Jika dokter mencurigai adanya PJB, anak dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan jenis dan tingkat keparahan kelainan jantung.
Khusus bayi atau anak yang mengalami kebiruan yang menetap, kesulitan bernapas berat, sangat lemas, sulit menyusu, atau penurunan kesadaran, pertolongan medis perlu dicari segera.
Pengenalan tanda sejak dini bukan berarti setiap gejala tersebut pasti menunjukkan penyakit jantung. Namun, kewaspadaan orang tua dapat membantu memastikan anak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat apabila memang terdapat kelainan jantung bawaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....