Bukan Menahan Kencing, Ini Penyebab Utama Batu Saluran Kemih

  • 13 Agt 2026 14:01 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Dehidrasi menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan cairan sehingga urine menjadi lebih pekat dan zat mineral yang seharusnya di keluarkan justru lebih mudah mengendap.

Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, Teguh Risesa Djufri, mengatakan batu saluran kemih merupakan penyakit multifaktorial. Faktor genetik, dehidrasi, hingga kondisi cuaca dapat berperan, tetapi kekurangan cairan menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh.

“Penyakit batu saluran kemih bersifat multifaktorial, artinya di pengaruhi banyak faktor seperti genetik, dehidrasi, dan cuaca. Namun, dehidrasi merupakan penyebab yang paling berpengaruh,” kata Teguh dalam media gathering bertajuk Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih di Hotel 101 Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Juli 2026.

Menurut Teguh, urine yang terlalu pekat membuat mineral dan zat lain lebih mudah mengalami pengendapan. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, endapan dapat berkembang menjadi batu di saluran kemih.

“Kalau urine terlalu pekat karena tubuh kekurangan cairan, zat-zat tersebut akan lebih mudah mengendap dan lama-kelamaan membentuk batu,” ujarnya.

Kurang Minum Lebih Berisiko daripada Menahan Buang Air Kecil

Teguh meluruskan anggapan bahwa menahan buang air kecil secara langsung menjadi penyebab batu saluran kemih. Menurutnya, kebiasaan yang lebih perlu di waspadai adalah sengaja mengurangi minum agar tidak harus terlalu sering pergi ke toilet.

Ketika asupan cairan di kurangi, tubuh berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi itulah yang kemudian membuat urine lebih pekat dan meningkatkan peluang terbentuknya endapan mineral.

“Jadi bukan menahan buang air kecil yang secara langsung menyebabkan batu saluran kemih. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja mengurangi asupan cairan agar tidak perlu buang air kecil. Kebiasaan tersebut menyebabkan dehidrasi, dan dehidrasi itulah yang meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih,” ujar Teguh.

Profesi sopir menjadi salah satu contoh kelompok yang kerap memiliki kebiasaan tersebut. Sebagian pengemudi memilih membatasi konsumsi minuman supaya tidak perlu berhenti terlalu sering selama perjalanan jauh.

“Banyak pasien batu saluran kemih yang saya tangani bekerja sebagai sopir dengan kebiasaan seperti itu,” katanya.

Kebiasaan serupa juga dapat muncul ketika masyarakat melakukan perjalanan mudik. Durasi perjalanan yang panjang membuat sebagian orang mengurangi konsumsi minuman untuk menghindari kebutuhan buang air kecil.

“Hal itu sengaja membuat banyak orang mengurangi minum agar tidak perlu sering buang air kecil. Tidak jarang setelah musim mudik kami menemukan lebih banyak kasus batu saluran kemih,” ujarnya.

Kopi dan teh juga tidak secara langsung menyebabkan batu saluran kemih. Namun, kandungan kafein pada kedua minuman tersebut memiliki efek diuretik yang dapat meningkatkan produksi urine.

Karena itu, konsumsi kopi atau teh sebaiknya tetap di sertai asupan air putih yang cukup. Masalah dapat muncul ketika seseorang mengandalkan kopi atau teh sebagai sumber minuman utama tetapi jarang memenuhi kebutuhan cairan dengan air putih.

“Kalau seseorang hanya minum teh atau kopi tanpa di imbangi konsumsi air putih yang cukup, kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih,” kata Teguh.

Garam Berlebih hingga Kehamilan Perlu Diwaspadai

Asupan garam juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Teguh mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih.

Ia menilai kebiasaan masyarakat yang menyukai makanan asin perlu mendapat perhatian, terlebih karena garam juga banyak terdapat pada makanan olahan.

“Kebiasaan mengkonsumsi garam berlebih dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu saluran kemih. Karena itu tidak mengherankan jika kasus batu saluran kemih cukup banyak ditemukan di Indonesia,” ujar Teguh.

Keluhan batu saluran kemih pada ibu hamil membutuhkan perhatian khusus. Nyeri pada pinggang yang dapat menjalar ke bagian perut merupakan salah satu gejala yang perlu diperiksa, terlebih jika disertai urine berdarah atau anyang-anyangan.

“Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa nyeri akibat batu saluran kemih bisa sebanding dengan nyeri persalinan. Pada ibu hamil kondisi ini juga dapat memicu kontraksi,” kata Teguh.

Penanganan ibu hamil umumnya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kehamilan dan karakteristik batu. Tindakan operasi tidak selalu menjadi pilihan pertama.

“Pada ibu hamil umumnya tidak langsung dilakukan operasi. Pendekatan yang dipilih adalah terapi konservatif sambil mengendalikan nyeri dan memantau kondisi batu,” ujarnya.

Teguh juga membantah anggapan bahwa air kelapa, bir, atau obat herbal seperti kaca beling dan kumis kucing dapat menghancurkan batu. Menurutnya, bahan-bahan tersebut hanya dapat memiliki efek diuretik atau meningkatkan produksi urine, bukan menghancurkan batu.

“Minuman atau herbal tersebut hanya memiliki efek diuretik. Bukan berarti batu dihancurkan oleh minuman atau obat herbal,” katanya.

Jika batu telah menyebabkan sumbatan, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda. Sumbatan yang berlangsung lama dapat mengganggu fungsi ginjal dan berisiko menyebabkan kerusakan permanen.

Risiko Batu Saluran Kemih Bisa Kembali Setelah Sembuh

Batu saluran kemih juga di kenal memiliki risiko kekambuhan yang cukup tinggi. Teguh menyebut angka kekambuhan di luar negeri berada di sekitar 23 persen, sedangkan beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan angka yang dapat mendekati 49 persen.

Salah satu penyebabnya adalah perubahan kebiasaan yang hanya berlangsung sementara. Setelah sembuh, pasien biasanya mulai memperbanyak minum air putih, tetapi kebiasaan tersebut dapat kembali seperti semula ketika kondisi tubuh sudah terasa membaik.

“Sebagian besar pasien yang pernah mengalami batu saluran kemih awalnya memiliki kebiasaan kurang minum. Setelah sembuh mereka disiplin minum air putih, tetapi setelah merasa sehat kebiasaan lama sering kembali sehingga risiko batu muncul lagi meningkat,” ujar Teguh.

Karena itu, pencegahan perlu di lakukan secara konsisten, bukan hanya ketika seseorang sudah mengalami penyakit. Memenuhi kebutuhan cairan, tidak berlebihan mengonsumsi garam, serta memperhatikan gejala pada saluran kemih dapat membantu mengurangi risiko.

“Yang paling penting dalam menjaga kesehatan adalah pencegahan. Pencegahan jauh lebih baik di bandingkan mengobati penyakit ketika kondisinya sudah berat,” kata Teguh.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....