Australia Bergerak Hampir 7 Cm per Tahun, Benarkah Lempeng Indo-Australia Terbelah?
- 14 Sep 2026 07:25 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Australia termasuk benua yang bergerak cepat akibat dinamika lempeng tektonik. Lempeng tektonik Australia bergerak sekitar 6,9 sentimeter setiap tahun. Pergerakan tersebut bahkan memengaruhi sistem navigasi global, termasuk GPS. Karena itu, ilmuwan menghadapi tantangan ketika melacak posisi lempeng secara akurat.
Namun, gerakan tersebut ternyata menyimpan fenomena geologi yang lebih besar. Para geolog menduga Lempeng Indo-Australia mulai mengalami proses pemisahan. Dugaan itu menguat setelah dua gempa besar mengguncang dasar Samudra Hindia pada 2012. Kedua gempa tersebut memberi petunjuk mengenai kondisi bagian dalam lempeng.
Gempa 2012 Membuka Petunjuk
Gempa pertama pada 2012 mencapai magnitudo 8,6, sedangkan gempa berikutnya mencapai 8,2. Menariknya, kedua gempa itu menunjukkan pola retakan yang tidak biasa. Gempa tersebut tidak mengikuti pola subduksi yang umum terjadi pada batas lempeng. Sebaliknya, retakan muncul melalui empat patahan yang berada di dalam lempeng.
Salah satu patahan bahkan mengalami pergeseran horizontal hingga hampir 30 meter. Pergerakan sebesar itu sangat jarang terjadi pada patahan yang berada di dalam lempeng. Karena itu, para peneliti menilai kejadian tersebut sebagai fenomena luar biasa. Temuan itu kemudian memperkuat dugaan tentang tekanan besar di dalam Lempeng Indo-Australia.
Selama puluhan tahun, peneliti telah mencurigai adanya tekanan internal pada lempeng tersebut. Lempeng Indo-Australia sendiri terbentuk melalui penggabungan dua lempeng kuno. Kini, pergerakan India dan Australia terus meningkatkan tekanan pada bagian dalam lempeng. Kondisi tersebut perlahan mendorong perubahan bentuk pada lempeng.
India dan Australia Bergerak Berlawanan
India terus bergerak menuju Eurasia dan mendorong terbentuknya Pegunungan Himalaya. Sementara itu, Australia bergerak menuju arah timur dengan pola pergerakan berbeda. Perbedaan arah tersebut secara perlahan memberi tarikan pada bagian dalam lempeng. Akibatnya, Lempeng Indo-Australia berpotensi mengalami proses pemisahan.
Rangkaian gempa pada 2012 menjadi salah satu petunjuk paling dramatis mengenai proses tersebut. Para ilmuwan menilai kejadian itu dapat menunjukkan perubahan yang berlangsung sangat lambat. Namun, proses pemisahan lempeng tidak berlangsung secara mendadak. Sebaliknya, perubahan tersebut berjalan dalam skala waktu geologi yang sangat panjang.
Aktivitas Gempa Mengalami Perubahan
Rangkaian gempa besar itu juga memunculkan fenomena lain setelah peristiwa utama. Aktivitas gempa berkekuatan sedang di berbagai wilayah dunia sempat meningkat hingga lima kali tingkat normal. Kondisi tersebut berlangsung setelah gempa utama mengguncang Samudra Hindia. Temuan itu mengindikasikan bahwa gempa dapat mengubah distribusi tekanan di berbagai wilayah Bumi.
Jika proses pemisahan terus berlangsung, batas lempeng baru dapat terbentuk pada masa depan. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu yang sangat panjang. Para ilmuwan menilai pembentukan batas tektonik baru jarang terjadi dalam rentang kehidupan manusia. Karena itu, fenomena tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian mengenai perubahan permukaan Bumi.
Peta Bumi Terus Berubah
Pergerakan benua sebenarnya terus berlangsung hingga saat ini. Setiap benua bergerak perlahan akibat dinamika lempeng tektonik. Dalam puluhan juta tahun, pergerakan tersebut dapat mengubah posisi daratan dan lautan. Bahkan, para ilmuwan memproyeksikan kemunculan kembali sebuah superkontinen pada masa depan.
Afrika, Australia, dan Antarktika termasuk wilayah yang dapat mengalami perubahan posisi tersebut. Perubahan itu dapat memengaruhi bentuk daratan, kondisi lautan, serta iklim Bumi dalam jangka sangat panjang. Namun, proses tersebut berlangsung jauh melampaui skala kehidupan manusia. Dengan demikian, peta Bumi saat ini tidak akan selalu memiliki bentuk yang sama.
Penelitian mengenai Lempeng Indo-Australia menunjukkan bahwa Bumi terus mengalami perubahan. Gempa besar pada 2012 memberikan gambaran mengenai tekanan yang bekerja di dalam lempeng. Sementara itu, pergerakan benua terus berjalan sedikit demi sedikit setiap tahun. Karena itu, perubahan peta Bumi sebenarnya sudah berlangsung sekarang, meski kecepatannya sangat lambat.
Sumber penelitian berasal dari Nature pada 2012 melalui kajian “The 11 April 2012 East Indian Ocean Earthquake Triggered Large Aftershocks Worldwide”. Penelitian lainnya berjudul “En Échelon and Orthogonal Fault Ruptures of the 11 April 2012 Great Intraplate Earthquakes”. Kedua kajian tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai gempa dan dinamika Lempeng Indo-Australia. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana aktivitas tektonik terus membentuk permukaan Bumi melalui proses yang sangat panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....