Fenomena Alam: Bulan Terus Menjauh, Lalu Apa yang Akan Terjadi?
- 31 Agt 2026 11:28 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Jika Anda memperhatikan Bulan purnama dari langit Sungai Penuh malam ini, bentuknya akan terlihat sama seperti puluhan tahun lalu. Namun tahukah Anda, secara ilmiah Bulan kita ternyata terus bergerak menjauh dari Bumi setiap tahunnya.
Fenomena ini bukan isapan jempol. Berdasarkan pengukuran presisi melalui Lunar Laser Ranging Experiment - yaitu reflektor yang ditinggalkan misi Apollo di permukaan Bulan - para ilmuwan memastikan Bulan menjauh dengan kecepatan sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Beberapa pengukuran lain menyebut angka 3,5 cm per tahun hingga 3,82 sentimeter per tahun.
Lalu, mengapa Bulan bisa menjauh?
Penjelasannya ada pada interaksi gravitasi dan pasang surut. Tarikan gravitasi Bulan menimbulkan pasang surut air laut di Bumi. Energi dari pasang surut itu menciptakan gesekan yang perlahan memperlambat rotasi Bumi. Momentum yang hilang dari Bumi itu justru berpindah ke Bulan, membuat orbitnya melebar sedikit demi sedikit.
| Baca juga: Anthropic Ingatkan Risiko AI Tak Terkendali |
Proses ini sendiri telah berlangsung miliaran tahun dan merupakan proses alamiah.
Lantas, apa dampaknya bagi kehidupan di Bumi?
Para peneliti menegaskan dampaknya tidak akan terasa dalam waktu dekat, melainkan dalam skala waktu geologis yang sangat panjang.
1. Gerhana Matahari Total Akan Punah
Ini dampak yang paling populer. Saat ini jarak Bulan sekitar 384.400 km atau sekitar 30 kali diameter Bumi, sehingga ukurannya di langit terlihat hampir sama besar dengan Matahari. Kondisi inilah yang memungkinkan terjadinya Gerhana Matahari Total.
Karena Bulan semakin kecil secara visual saat menjauh, sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan menyaksikan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya.
2. Hari di Bumi Akan Lebih Panjang
Perlambatan rotasi Bumi akibat gesekan pasang surut membuat hari semakin panjang. Saat ini rotasi Bumi melambat sekitar 0,002 detik per abad. Artinya, setiap 100.000 tahun, durasi satu hari hanya bertambah dua detik.
Jika tren ini terus berlanjut, dalam 200 juta tahun, satu hari di Bumi bisa mencapai 25 jam. Bahkan perkiraan lain menyebut penambahan menjadi 25 jam baru terjadi 180 juta tahun mendatang.
3. Pasang Surut Melemah dan Kestabilan Bumi Berkurang
Bulan adalah penyeimbang kemiringan sumbu Bumi. Jika jaraknya semakin jauh, gaya stabilisasinya akan berkurang, yang dalam miliaran tahun dapat memengaruhi iklim ekstrem dan melemahnya fenomena pasang surut laut yang menjadi penopang ekosistem pesisir.
Meski terdengar mengkhawatirkan, masyarakat tidak perlu cemas. Fenomena menjauhnya Bulan bergerak sangat lambat dan baru berdampak signifikan dalam ratusan juta tahun ke depan.
Kepala Stasiun Meteorologi atau pengamat astronomi di Kerinci-Sungai Penuh mengingatkan, fenomena astronomi yang bisa diamati warga saat ini justru adalah keindahan Bulan purnama dan fase-fasenya, yang masih menjadi penanda kalender pertanian dan waktu shalat bagi masyarakat lokal.
Bulan memang perlahan pergi, tapi ia tidak akan meninggalkan Bumi dalam waktu dekat. Ia masih akan setia menemani malam-malam di atas Gunung Kerinci untuk jutaan generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....