Mengapa Gerhana Bulan Sebagian Agustus 2026 Tak Bisa Disaksikan dari Indonesia?
- 27 Agt 2026 13:11 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Fenomena langit yang dinanti sebagian masyarakat dunia, yaitu gerhana bulan sebagian yang terjadi pada akhir Agustus 2026, ternyata tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Sains Antariksa menjelaskan alasan di balik ketidakhadiran fenomena tersebut di langit Tanah Air.
Gerhana bulan sebagian terjadi ketika Bulan hanya masuk sebagian ke dalam bayangan inti Bumi, sehingga sebagian permukaan Bulan tetap terlihat terang, sementara sebagian lainnya meredup. Fenomena ini berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026. Namun, bagi masyarakat Indonesia, Bulan justru berada di bawah cakrawala saat peristiwa berlangsung.
"Gerhana bulan sebagian ini terjadi pada saat fase Bulan berada di atas belahan bumi bagian selatan. Posisi bayangan Bumi jatuh di wilayah langit yang tidak terjangkau oleh pengamat di Indonesia," jelas Kepala Pusat Sains Antariksa BRIN, Dr. Thomas Djamaluddin.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa peristiwa ini terjadi pada siang hari di Indonesia, tepatnya saat Bulan sedang dalam posisi terbenam. Akibatnya, Bulan tidak terlihat di langit Indonesia, sehingga gerhana pun tidak dapat diamati sama sekali.
🌍 Wilayah yang Bisa Menyaksikan
Fenomena ini hanya dapat disaksikan dari wilayah Amerika Selatan, sebagian Amerika Utara, wilayah Samudra Pasifik, Atlantik, dan Antartika. Di wilayah tersebut, gerhana berlangsung sekitar 3 jam, dengan puncak gerhana terjadi sekitar pukul 10.00–13.00 WIB, saat di Indonesia Bulan tidak terlihat.
🔭 Kapan Indonesia Bisa Melihat Gerhana Bulan Lagi?
Masyarakat Indonesia tidak perlu kecewa. Menurut perhitungan astronomi, Indonesia masih berkesempatan menyaksikan gerhana bulan pada tahun ini. Berikut jadwal selanjutnya:
- ✅ Gerhana Bulan Penuh — akan terjadi pada 9 Maret 2027, dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia.
- ✅ Sebelumnya, pada 7 September 2026, akan terjadi Gerhana Bulan Penuh yang juga dapat diamati sebagian wilayah Indonesia.
"Kehilangan satu fenomena bukan berarti kehilangan kesempatan selamanya. Selalu ada fenomena langit berikutnya yang bisa kita saksikan, asalkan kita memperhatikan jadwal dan posisi langit," tambah Dr. Thomas.
Informasi Penting
Perlu diingat bahwa gerhana bulan berbeda dengan gerhana matahari. Gerhana bulan aman dilihat langsung tanpa alat pelindung mata, karena cahaya yang dipancarkan adalah pantulan cahaya matahari yang telah dilemahkan. Namun, bagi pengamat yang ingin merekam atau mengamati lebih detail, disarankan menggunakan teropong atau kamera dengan pengaturan yang sesuai.
Masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi astronomi resmi dari BRIN atau lembaga terkait, agar tidak tertukar dengan informasi yang tidak akurat. Fenomena langit selalu terjadi sesuai perhitungan, dan Indonesia masih memiliki banyak kesempatan menyaksikan peristiwa langit yang menakjubkan di waktu-waktu mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....