Hampir Blood Moon, Gerhana Bulan Sebagian Ekstrem Menghampiri Akhir Agustus
- 22 Agt 2026 08:47 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh — Langit penghujung Agustus 2026 akan dihiasi fenomena astronomi menarik. Gerhana Bulan sebagian yang sangat dalam akan terjadi pada 27–28 Agustus 2026, ketika hampir seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi.
Fenomena ini disebut sebagai salah satu gerhana Bulan sebagian terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Sekitar 96,2 persen permukaan Bulan akan tertutup bayangan umbra Bumi pada saat puncak gerhana. Karena sebagian besar Bulan berada dalam bayangan Bumi, warnanya berpotensi berubah menjadi merah tembaga sehingga sekilas menyerupai fenomena Blood Moon.
Bukan Blood Moon Sepenuhnya
Meski tampilannya diperkirakan menyerupai Blood Moon, secara astronomi fenomena pada 28 Agustus 2026 tetap dikategorikan sebagai gerhana Bulan sebagian, bukan gerhana Bulan total.
Perbedaannya terletak pada posisi Bulan terhadap umbra Bumi. Pada gerhana total, seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam umbra. Sementara pada gerhana kali ini, sebagian kecil Bulan masih berada di luar bayangan inti tersebut.
Dengan sekitar 96 persen permukaan Bulan berada dalam umbra, perbedaannya secara visual dapat terlihat sangat tipis. Bagian Bulan yang berada dalam bayangan Bumi dapat memancarkan warna merah atau jingga akibat cahaya Matahari yang telah melewati atmosfer Bumi.
Terjadi pada 28 Agustus
Menurut data astronomi, fase gerhana sebagian dimulai sekitar 02.33 UTC pada 28 Agustus, kemudian mencapai puncaknya sekitar 04.12 UTC. Pada saat maksimum, sekitar 96 persen permukaan Bulan akan berada di dalam bayangan umbra Bumi.
Dalam waktu Indonesia bagian barat, puncak tersebut setara dengan sekitar 11.12 WIB pada 28 Agustus 2026. Namun, waktu pengamatan dan keterlihatan fenomena berbeda-beda berdasarkan lokasi pengamat.
Tidak Semua Wilayah Bisa Menyaksikan
Gerhana Bulan hanya dapat diamati dari wilayah Bumi yang sedang mengalami malam ketika fenomena berlangsung. Untuk gerhana kali ini, wilayah yang mendapatkan kesempatan pengamatan mencakup sebagian besar Amerika Utara dan Selatan, serta sejumlah wilayah di Eropa dan Afrika.
Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia tidak berada pada posisi yang ideal untuk menyaksikan fase utama gerhana karena waktunya bertepatan dengan siang hari di Indonesia.
Karena itu, masyarakat Indonesia sebaiknya tidak langsung berasumsi bahwa fenomena tersebut dapat disaksikan dari seluruh wilayah Nusantara hanya karena tanggal gerhananya jatuh pada 28 Agustus.
Aman Diamati dengan Mata Telanjang
Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan dapat diamati secara langsung tanpa menggunakan kacamata khusus. Penggunaan teropong atau teleskop bukan suatu keharusan, tetapi dapat membantu melihat detail permukaan Bulan dan perubahan bayangan Bumi dengan lebih jelas.
Pengamat yang ingin mengabadikan fenomena ini juga dapat menggunakan kamera atau kamera telepon pintar, terutama jika dilengkapi tripod agar gambar lebih stabil.
Penutup Bulan Penuh Fenomena Langit
Gerhana Bulan sebagian 28 Agustus menjadi salah satu fenomena langit penting setelah rangkaian peristiwa astronomi yang menghiasi Agustus 2026. Fenomena tersebut sekaligus menawarkan kesempatan menarik bagi penggemar astronomi untuk mengamati bagaimana bayangan Bumi perlahan menutupi hampir seluruh permukaan Bulan.
Walaupun istilah “Blood Moon” lebih tepat digunakan untuk gerhana Bulan total, gerhana sebagian yang mencapai sekitar 96 persen ini tetap layak dinantikan karena secara visual Bulan dapat terlihat sangat gelap dengan semburat warna merah tembaga.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah yang dapat menyaksikannya, kondisi langit cerah dan lokasi dengan pandangan luas ke arah Bulan akan menjadi faktor penting untuk mendapatkan pengalaman pengamatan terbaik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....