Sungai-Sungai Eropa Makin Menyusut, Danube Catat Rekor Terendah
- 21 Sep 2026 16:33 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Gelombang panas dan minim hujan membuat sejumlah sungai utama Eropa menyusut drastis. Bahkan, beberapa wilayah mencatat permukaan air pada level terendah sepanjang sejarah pencatatan. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan persoalan bagi sektor energi, transportasi, hingga pariwisata.
Citra satelit menunjukkan perubahan kondisi sungai secara cukup jelas. Aliran yang sebelumnya membentang lebar kini terlihat semakin mengecil. Sementara itu, tepian sungai yang biasanya terendam mulai terlihat. Gundukan pasir yang sebelumnya berada di bawah permukaan air juga kembali muncul.
Jika membandingkan kondisi tersebut dengan 2023, perubahan tahun ini terlihat cukup mencolok. Saat itu, debit sejumlah sungai Eropa masih berada dalam kondisi normal. Namun, musim panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan membuat cadangan air terus berkurang.
Danube Catat Permukaan Air Terendah
Eropa sendiri mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan benua lainnya di dunia. Gelombang panas yang berulang membuat kondisi tanah dan sumber air semakin kering. Selain itu, hujan yang minim membuat sungai kesulitan mengembalikan debit airnya.
Padahal, sungai memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Eropa. Selain mengangkut berbagai barang, sungai juga mendukung pembangkit listrik dan sistem pendingin fasilitas energi. Di sisi lain, sungai menjadi habitat satwa serta menopang aktivitas pariwisata.
Danube menjadi salah satu sungai yang merasakan dampak paling serius. Sungai terpanjang kedua di Eropa tersebut melintasi 10 negara. Alirannya membentang dari Jerman hingga akhirnya bermuara di Laut Hitam.
Di Hungaria, permukaan Danube bahkan mencapai rekor terendah. Di Budapest, ketinggian air hanya mencapai sekitar 10 sentimeter pada Senin lalu. Angka tersebut memecahkan rekor sebelumnya, yaitu sekitar 33 sentimeter yang tercatat pada 2018.
Kondisi tersebut berpotensi semakin parah karena gelombang panas kembali melanda kawasan Eropa Tengah dan Timur. Dampaknya juga mulai terasa pada sektor energi Hungaria. Pembangkit listrik tenaga nuklir Paks harus mengurangi operasional karena menggunakan air Danube untuk mendinginkan reaktor.
Pembangkit Paks menyuplai hampir setengah kebutuhan listrik Hungaria. Karena itu, penurunan debit Danube turut memengaruhi operasional pembangkit tersebut. Situasi serupa juga muncul di Rumania dengan kondisi Danube yang terus menyusut.
Angkatan laut Rumania menggunakan bahan peledak untuk memecah batuan di jalur sungai. Langkah tersebut bertujuan mengalihkan aliran Danube menuju satu-satunya reaktor yang masih beroperasi di PLTN Cernavoda. Kondisi ini menunjukkan dampak langsung kekeringan terhadap infrastruktur energi.
Kapal Pesiar dan Angkutan Barang Ikut Terdampak
Selain energi, penyusutan sungai turut mengganggu aktivitas transportasi dan pariwisata. Sejumlah kapal pesiar sungai harus membatalkan perjalanan atau mengubah rute. Kedalaman air yang semakin rendah membuat kapal tidak dapat melintas seperti biasanya.
Pekan lalu, sebuah kapal pesiar bahkan dilaporkan kandas di gundukan pasir. Peristiwa tersebut terjadi di Sungai Danube, Bulgaria. Kondisi sungai yang dangkal meningkatkan risiko bagi kapal yang melintas.
Namun, surutnya Danube juga membuka kembali sejumlah peninggalan masa lalu. Benda-benda yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan air mulai terlihat. Temuan tersebut kemudian menarik perhatian di sejumlah wilayah.
Di Bulgaria, masyarakat menemukan sisa-sisa yang diduga berasal dari mamut purba. Sementara itu, Serbia kembali memperlihatkan bangkai kapal perang Nazi yang sebelumnya tenggelam. Permukaan Danube yang turun membuat peninggalan tersebut kembali terlihat.
Bukan hanya Danube yang menghadapi persoalan serupa. Sungai Rhine di Jerman juga mengalami penyusutan debit air. Kondisi tersebut terjadi akibat kombinasi beberapa faktor cuaca dan iklim.
Rendahnya curah salju di Pegunungan Alpen selama musim dingin ikut memengaruhi kondisi Rhine. Selain itu, wilayah aliran sungai juga mengalami minim hujan. Lima gelombang panas yang melanda kawasan tersebut kemudian membuat permukaan Rhine semakin menyusut.
Dampaknya terasa langsung pada aktivitas pelayaran dan pengangkutan barang. Kapal pengangkut barang harus mengurangi muatan hingga 80 persen. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko kapal kandas pada bagian sungai yang dangkal.
Kekeringan Bisa Menjadi Gambaran Masa Depan
Kondisi sungai di Eropa tersebut tidak hanya berkaitan dengan musim panas tahun ini. Para ilmuwan melihat situasi tersebut sebagai bagian dari risiko yang dapat semakin sering muncul. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian dalam kondisi tersebut.
Profesor Ilmu Iklim University of Reading, Richard Allan, turut memberikan peringatan mengenai kondisi ekstrem tersebut. Menurutnya, situasi yang terjadi sekarang dapat menjadi gambaran persoalan yang lebih besar pada masa mendatang.
"Seiring iklim terus menghangat, kondisi ekstrem hidrologi yang kita alami saat ini mungkin baru merupakan puncak dari masalah yang lebih besar," ujarnya.
Allan juga menyoroti tantangan pengelolaan sumber daya air pada masa mendatang. Menurutnya, pengelolaan air akan semakin sulit ketika kondisi ekstrem semakin sering terjadi. Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah jangka panjang.
"Pengelolaan sumber daya air akan semakin sulit. Satu-satunya cara untuk membatasi kondisi ekstrem ini adalah dengan segera mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh sektor dan mendukung kebijakan jangka panjang, bukan sekadar melakukan penanganan darurat dalam jangka pendek," jelas Allan.
Dengan semakin dangkalnya sungai-sungai utama, persoalan yang muncul kini semakin luas. Kondisinya tidak hanya menyangkut jalur transportasi dan pasokan energi. Kekeringan juga memperlihatkan kerentanan Eropa terhadap perubahan pola iklim serta keterbatasan sumber daya air.
Situasi tersebut sekaligus menunjukkan besarnya peran sungai bagi kehidupan masyarakat Eropa. Ketika debit air turun drastis, berbagai sektor ikut menghadapi dampaknya. Mulai dari energi, transportasi, pariwisata, hingga lingkungan turut merasakan perubahan tersebut.
Kondisi sungai yang terus menyusut menjadi perhatian karena dampaknya dapat menjangkau banyak sektor. Sementara itu, gelombang panas dan minimnya hujan masih menjadi faktor utama dalam perubahan tersebut. (el/*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....