Gurun Mesir ternyata Pernah Jadi Laut, Fosil Hiu Ungkap Jejak Puluhan Juta Tahun
- 13 Sep 2026 12:27 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Gurun Mesir ternyata menyimpan rekaman kehidupan laut dari puluhan juta tahun lalu. Para paleontolog menemukan kumpulan gigi hiu fosil di Dataran Tinggi Abu-Tartur. Temuan itu menunjukkan kawasan tersebut dahulu menjadi bagian dari ekosistem laut yang sangat produktif. Kini, batuan gurun itu masih merekam kehidupan laut yang pernah berkembang di sana.
Para peneliti menemukan fosil tersebut dalam lapisan batuan fosfat Formasi Duwi. Dalam penelitian terbaru, mereka menemukan 14 gigi tambahan dari lima spesies hiu purba. Selanjutnya, peneliti menggabungkan temuan itu dengan hasil penelitian sebelumnya. Hasilnya, mereka mencatat sedikitnya tujuh spesies hiu dari lapisan tersebut.
Paleontolog Tarek Yassin dari Cairo University memimpin penelitian tersebut. Jurnal Cretaceous Research menerbitkan hasil penelitian itu pada 2026. Sementara itu, kondisi Bumi pada periode Kapur sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Pada masa tersebut, permukaan laut jauh lebih tinggi dan menutupi sebagian Afrika Utara.
Abu-Tartur Dahulu Menjadi Lingkungan Laut
Pada periode Kapur, Abu-Tartur menjadi lingkungan laut yang kaya nutrisi. Endapan fosfat kemudian menjadi salah satu petunjuk mengenai tingginya produktivitas laut. Karena itu, peneliti menggambarkan kawasan tersebut sebagai ekosistem laut yang sangat produktif. Science Alert mengutip penjelasan peneliti mengenai kondisi lingkungan tersebut.
“Secara keseluruhan, kumpulan ini menunjukkan ekosistem laut dengan produktivitas tinggi dan kaya nutrisi di sepanjang tepi paparan laut yang menghasilkan fosfat,” kata para peneliti seperti dikutip dari Science Alert. Kondisi itu kemudian mendukung rantai makanan laut di kawasan Abu-Tartur. Selain itu, lingkungan kaya nutrisi menyediakan sumber makanan bagi berbagai predator laut. Hiu menjadi salah satu predator yang memanfaatkan sumber daya tersebut.
Gigi Hiu Membantu Mengenali Spesies
Gigi menjadi bagian penting dalam penelitian terhadap hiu purba. Sebab, kerangka hiu menggunakan tulang rawan yang lebih mudah hancur dibandingkan tulang. Oleh karena itu, peneliti menggunakan bentuk gigi untuk mengenali spesies hiu. Dari temuan terbaru, mereka menemukan lima spesies yang sebelumnya belum tercatat di Abu-Tartur.
Kelima spesies tersebut mencakup Cretalamna cf. maroccana dan Scapanorhynchus cf. raphiodon. Selain itu, peneliti mencatat Serratolamna cf. serrata, Squalicorax bassanii, dan Squalicorax pristodontus. Dua spesies juga menjadi catatan baru untuk wilayah Mesir. Kedua spesies itu adalah Serratolamna cf. serrata dan Squalicorax bassanii.
Temuan Scapanorhynchus cf. raphiodon juga menarik perhatian dalam penelitian tersebut. Spesies ini memiliki gigi panjang dan ramping yang menyerupai jarum. Peneliti menduga temuan tersebut dapat menjadi catatan pertama spesies itu dari Afrika. Selain itu, fosil tersebut termasuk salah satu temuan paling muda untuk kelompok tersebut.
Kumpulan Fosil Bukan Kuburan Hiu
Meski menemukan banyak gigi hiu, peneliti tidak menganggap lokasi tersebut sebagai tempat kematian massal. Istilah “kuburan hiu” juga tidak menunjukkan tujuh spesies itu hidup dan mati secara bersamaan. Lapisan fosfat Abu-Tartur mengalami sedimentasi dalam jumlah relatif sedikit. Akibatnya, gigi hiu dari berbagai periode dapat terkumpul pada satu lapisan batuan.
Karena itu, kumpulan fosil tersebut merekam komunitas laut dari waktu ke waktu. Peneliti tidak melihat temuan tersebut sebagai bukti satu peristiwa kematian massal. Sebaliknya, mereka mencari penyebab banyaknya predator laut di kawasan tersebut. Salah satu dugaan utama berkaitan dengan proses upwelling.
Proses upwelling membawa air laut dari lapisan lebih dalam menuju permukaan. Air tersebut membawa nutrisi yang kemudian mendukung pertumbuhan plankton. Selanjutnya, plankton menyediakan makanan bagi ikan kecil dan berbagai invertebrata. Rantai makanan itu kemudian mendukung predator berukuran lebih besar, termasuk hiu.
Fosil Menunjukkan Perbedaan Habitat
Keberadaan beberapa jenis hiu juga memberikan petunjuk mengenai perbedaan relung ekologis. Peneliti menyebut Squalicorax dapat menunjukkan lingkungan perairan dangkal atau kawasan dekat pantai. Sementara itu, Scapanorhynchus lebih berkaitan dengan kondisi perairan yang lebih dalam. Perbedaan tersebut membantu peneliti memahami variasi lingkungan laut Abu-Tartur.
Dengan demikian, setiap gigi fosil memberikan petunjuk tentang rantai makanan dan kondisi laut purba. Selama jutaan tahun, bentang alam kawasan tersebut mengalami perubahan besar. Laut Tethys kemudian menghilang dan dasar laut berubah menjadi daratan. Setelah itu, wilayah tersebut berkembang menjadi lingkungan gurun seperti yang dikenal sekarang.
Meski lingkungan berubah, batuan tetap menyimpan bukti kehidupan dari masa lalu. Gigi hiu menjadi salah satu rekaman penting mengenai perubahan lingkungan tersebut. Temuan Abu-Tartur menunjukkan bahwa Gurun Mesir dahulu menjadi kawasan laut yang kaya kehidupan. Bagi ilmuwan, setiap fosil membantu mereka merekonstruksi kondisi laut dan rantai makanan purba.
Selain itu, bentuk dan jenis gigi membantu peneliti memahami ekosistem Afrika Utara jutaan tahun lalu. Fosil tersebut juga memperlihatkan perubahan lingkungan yang berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang. Dahulu, laut menopang beragam kehidupan di wilayah tersebut. Kini, kawasan itu berubah menjadi gurun yang tetap menyimpan jejak dunia laut purba.
Informasi mengenai temuan fosil tersebut memperlihatkan perubahan besar lingkungan Afrika Utara. Temuan itu sekaligus menunjukkan pentingnya batuan dalam merekam kehidupan masa lalu. Setiap fosil memberikan petunjuk mengenai kondisi lingkungan yang pernah berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....