Hari Kesaktian Pancasila: Sejarah Pahlawan Revolusi dan Asal-usul Lubang Buaya

  • 01 Okt 2026 12:11 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh – Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini berkaitan erat dengan rangkaian peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan enam jenderal TNI Angkatan Darat dan satu perwira pertama.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila biasanya ditandai dengan upacara di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Presiden Republik Indonesia memimpin atau mengikuti upacara tersebut bersama jajaran pemerintah dan peserta upacara.

Rangkaian upacara antara lain mencakup pembacaan Pancasila, pembacaan ikrar, serta doa. Pada 30 September, bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Sehari kemudian, pada 1 Oktober, bendera kembali dikibarkan satu tiang penuh.

Sejarah Peristiwa 30 September 1965

Latar belakang Hari Kesaktian Pancasila tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan menculik sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat.

Para korban kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Mereka adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Selain enam jenderal tersebut, kelompok itu juga menewaskan Letnan Satu Pierre Andreas Tendean yang merupakan ajudan Jenderal A.H. Nasution. Karena itu, ketujuh korban kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Jenderal A.H. Nasution sendiri menjadi salah satu sasaran penculikan, tetapi berhasil menyelamatkan diri. Dalam peristiwa tersebut, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, serta ajudannya, Lettu Pierre Tendean, menjadi korban.

Asal-usul Nama Lubang Buaya

Lubang Buaya merupakan sebuah kawasan di Jakarta Timur yang saat ini menjadi bagian dari kompleks Monumen Pancasila Sakti. Nama Lubang Buaya tidak merujuk pada keberadaan sumur tempat para korban ditemukan.

Nama tersebut sudah digunakan untuk kawasan itu sebelum peristiwa 1965. Lubang Buaya merupakan nama daerah yang berada di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Di kawasan tersebut terdapat sebuah sumur tua yang kemudian dikenal sebagai Sumur Maut Lubang Buaya. Setelah peristiwa 30 September 1965, jenazah para korban ditemukan di dalam sumur tersebut.

Sumur itu memiliki kedalaman sekitar 12 meter. Kondisi sumur yang sempit membuat proses evakuasi jenazah membutuhkan waktu dan dilakukan dengan bantuan personel serta peralatan khusus.

Monumen Pancasila Sakti

Untuk mengenang para korban, pemerintah kemudian membangun kompleks Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya. Kompleks tersebut menjadi salah satu tempat penting dalam pengajaran sejarah Indonesia mengenai peristiwa 1965.

Di dalam kompleks terdapat patung para Pahlawan Revolusi. Selain itu, terdapat pula museum, diorama yang menggambarkan rangkaian peristiwa, serta Sumur Maut tempat jenazah para korban ditemukan.

Kawasan ini kemudian menjadi lokasi utama peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.

Mengapa 1 Oktober Disebut Hari Kesaktian Pancasila?

Peringatan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan narasi sejarah pemerintah Orde Baru bahwa Pancasila berhasil dipertahankan setelah percobaan kudeta pada 30 September 1965.

Setelah peristiwa tersebut, Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih kendali operasi pemulihan keamanan. Pada 1 Oktober 1965, pasukan di bawah kendalinya merebut kembali sejumlah lokasi strategis di Jakarta.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila kemudian ditetapkan sebagai momentum untuk mengenang peristiwa tersebut sekaligus menegaskan Pancasila sebagai dasar negara.

Seiring waktu, peringatan ini menjadi agenda nasional. Upacara 1 Oktober digelar untuk mengenang para Pahlawan Revolusi dan mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara.

Mengenang Sejarah dan Para Korban

Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi agenda seremonial. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk mengenang korban peristiwa 1965 dan mempelajari kembali sejarah Indonesia secara kritis.

Peristiwa 30 September 1965 merupakan salah satu bab penting sekaligus kompleks dalam sejarah Indonesia. Berbagai penelitian dan kajian sejarah membahas latar belakang, aktor, serta dampak politik dan sosial yang muncul setelah peristiwa tersebut.

Karena itu, setiap peringatan 1 Oktober dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memahami sejarah secara lebih utuh, termasuk mengenang para korban serta melihat dampak panjang peristiwa tersebut terhadap perjalanan bangsa Indonesia.

Dengan demikian, 1 Oktober memiliki makna khusus dalam sejarah nasional. Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk mengenang tragedi 1965 sekaligus meneguhkan kembali Pancasila sebagai dasar negara dan bagian penting dari kehidupan berbangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....