Lonjakan Kasus Diabetes pada Remaja, Gaya Hidup Jadi Faktor Utama
- 29 Mei 2026 09:35 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID,, Sungai Penuh – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengungkapkan adanya peningkatan signifikan kasus diabetes pada kelompok usia remaja dalam dua tahun terakhir. Data terbaru per Mei 2026 menunjukkan angka kasus naik hingga 35% dibanding tahun 2024, dengan mayoritas kasus dikaitkan erat dengan pola hidup tidak sehat yang kini menjadi gaya hidup generasi muda .
Wakil Menteri Kesehatan, dr. Dante Saksono, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (28/5), menegaskan bahwa faktor utama penyebab lonjakan ini adalah konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan tidur tidak teratur. “Kami menemukan 7 dari 10 remaja yang terdiagnosis diabetes memiliki kebiasaan rutin mengonsumsi minuman manis dan makanan cepat saji, serta menghabiskan lebih dari 4 jam sehari di depan layar gawai tanpa bergerak aktif,” ujarnya .
Data Kemenkes mencatat, saat ini terdapat lebih dari 1,2 juta remaja usia 10–19 tahun hidup dengan diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2. Khusus diabetes tipe 2 yang dulunya identik dengan usia dewasa, kini justru mendominasi kasus baru pada remaja hingga mencapai 62%. Kondisi ini dikhawatirkan menjadi bom waktu bagi kesehatan nasional karena risiko komplikasi seperti kerusakan ginjal, mata, hingga jantung dapat muncul jauh lebih dini.
Pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran UI, Prof. Dr. Budi Santoso, menjelaskan bahwa perubahan pola hidup akibat kemajuan teknologi dan perubahan pola makan menjadi pemicu utama. “Remaja sekarang lebih suka pesan makanan siap saji, kurang bergerak, dan sering begadang. Semua itu memicu resistensi insulin lebih cepat, sehingga risiko terkena diabetes jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya,” jelasnya.
Pemerintah melalui Kemenkes telah merancang sejumlah langkah penanggulangan. Mulai dari kampanye Gerakan Makan Sehat dan Aktif, penguatan materi kesehatan di sekolah, hingga pembatasan iklan makanan tinggi gula dan lemak yang ditujukan untuk anak dan remaja. Kolaborasi juga dilakukan dengan pihak swasta dan komunitas untuk memperluas edukasi hingga ke tingkat desa dan lingkungan bermain remaja .
“Kami tidak hanya mengobati, tapi harus mencegah sejak dini. Peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat besar. Kesehatan remaja adalah investasi masa depan bangsa,” tambah Wakil Menkes.
Masyarakat diimbau untuk mulai menerapkan pola makan seimbang, mengurangi gula tambahan, serta membiasakan beraktivitas fisik minimal 30 menit sehari. Pemerintah juga menyiapkan layanan skrining kesehatan gratis di puskesmas dan sekolah untuk mendeteksi risiko sedini mungkin, agar penanganan bisa dilakukan lebih awal dan lebih efektif .
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....