di Bawah Bayang-Bayang Dolar Rp18.000, Kelas Menengah Mulai Kehabisan Napas

  • 24 Mei 2026 18:37 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh – Harga kebutuhan pokok perlahan naik. Isi kemasan makin sedikit, tetapi harga tetap sama. Tagihan bulanan terus bertambah, sementara penghasilan terasa jalan di tempat. Bagi banyak keluarga kelas menengah, tekanan ekonomi kini bukan lagi sekadar angka di berita keuangan, melainkan kenyataan yang dirasakan setiap hari.

Di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat yang mendekati Rp18.000, masyarakat mulai merasakan efek domino dari pelemahan rupiah. Mulai dari harga pangan, biaya transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga ikut terdorong naik.

Fenomena shrinkflation pun semakin sering ditemui. Produk yang biasa dibeli masyarakat tampak sama dari luar, tetapi isi di dalamnya berkurang. Konsumen akhirnya harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan yang sama.

Bagi pelaku usaha kecil, situasi ini menjadi dilema berat. Harga bahan baku naik karena banyak komoditas masih bergantung pada impor dan transaksi dolar AS. Di sisi lain, daya beli masyarakat justru melemah.

“Kalau harga dinaikkan, pembeli berkurang. Tapi kalau dipertahankan, untungnya makin tipis,” keluh seorang pedagang sembako di Kerinci, Minggu 24 Mei 2026.

Tekanan paling terasa kini menghantam kelas menengah. Kelompok yang selama ini dianggap paling stabil justru mulai kesulitan menjaga keseimbangan keuangan keluarga. Gaji bulanan cepat habis hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Sebagian masyarakat mulai mengandalkan pinjaman online dan layanan paylater demi menutup kebutuhan harian. Namun di balik kemudahan itu, muncul ancaman baru berupa kredit macet dan beban utang yang terus menumpuk.

Situasi ini dipicu kondisi ekonomi global. Tingginya suku bunga di Amerika Serikat membuat investor menarik dana dari negara berkembang dan kembali menyimpan aset dalam dolar AS. Akibatnya, rupiah semakin tertekan.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi beban utang luar negeri berbasis dolar yang semakin mahal. Dampaknya perlahan dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang dan berkurangnya ruang subsidi.

Meski begitu, sejumlah pengamat menilai masyarakat masih memiliki peluang bertahan jika mampu beradaptasi lebih cepat. Mengurangi pengeluaran konsumtif, memperkuat dana darurat, hingga mencari sumber penghasilan tambahan menjadi langkah penting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Di tengah ancaman krisis dan gejolak pasar global, satu hal mulai disadari banyak orang: bertahan kini bukan lagi soal seberapa besar penghasilan, tetapi seberapa cepat mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....