Nenek Buruh Tani di Maros yang Jadi Ikon Global Haji 2026
- 08 Mei 2026 08:15 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di tengah hamparan sawah di Maros, hidup seorang perempuan lanjut usia bernama Jumaria. Tak banyak yang mengenalnya. Hidupnya sunyi, jauh dari gemerlap kota dan hiruk-pikuk media sosial.
Namun siapa sangka, di usia 70 tahun, perempuan renta asal Dusun Majannang, Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili itu justru menjadi perhatian dunia. Nama Jumaria terpilih sebagai ikon global jemaah haji dalam program Mekkah Route 2026 yang digagas Saudi Arabia.
Kisahnya menyentuh banyak hati karena Jumaria bukan orang berada. Ia hanyalah seorang buruh tani dengan penghasilan yang bahkan kadang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam sebulan, penghasilannya paling banyak sekitar Rp200 ribu. Uang itu diperolehnya dari membantu menggarap sawah milik warga. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dimakan usia, Jumaria tetap berjalan ke kebun dan sawah demi bertahan hidup.
Dalam sebulan, penghasilannya paling banyak sekitar Rp200 ribu. Uang itu diperolehnya dari membantu menggarap sawah milik warga. Dengan tubuh yang mulai membungkuk dimakan usia, Jumaria tetap berjalan ke kebun dan sawah demi bertahan hidup.
Tetapi di balik kerasnya hidup, ia menyimpan satu mimpi yang tak pernah padam: menunaikan ibadah haji.
Sejak tahun 2010, Jumaria mulai menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjanya. Tidak ada celengan mewah atau rekening khusus. Kadang uang itu ia simpan di dalam ember, kadang pula di bawah bantal tempat ia tidur.
Recehan demi recehan dikumpulkannya dengan penuh kesabaran.
Ada hari ketika uang tabungannya terpaksa dipakai kembali untuk membeli beras atau kebutuhan makan. Namun setelah itu, ia kembali menabung dari nol. Begitu terus selama bertahun-tahun.
Jumaria menjalani hidup seorang diri di rumah peninggalan orang tuanya. Rumah tua itu berdiri jauh dari jalan beraspal, dikelilingi hamparan sawah dan kebun. Untuk menuju jalan raya, ia harus berjalan kaki melewati pematang sawah yang licin saat hujan turun.
Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Semua saudaranya telah memiliki rumah masing-masing, sementara dirinya memilih tetap tinggal di rumah lama keluarga yang penuh kenangan.
Ia juga tak memiliki anak dan telah lama berpisah dari suami. Hari-harinya diisi dengan bekerja, berdoa, dan menjaga harapan agar suatu hari bisa melihat Ka’bah dengan matanya sendiri.
Meski tubuhnya kini tak lagi tegak berdiri, semangat Jumaria tak pernah runtuh.
Saat proses pengurusan dokumen keberangkatan haji dilakukan, ia dibantu sang cucu yang setiap hari setia mengantarnya. Kebersamaan sederhana itu menjadi bagian dari perjuangan panjang yang akhirnya berbuah haru.
Kini, nama Jumaria dikenal luas. Foto dan kisah hidupnya menyebar hingga ke berbagai negara. Banyak orang tersentuh melihat bagaimana seorang nenek buruh tani mampu menjaga mimpi dan keyakinannya selama belasan tahun tanpa menyerah pada keadaan.
Bagi banyak orang, Jumaria bukan sekadar jemaah haji. Ia adalah simbol ketulusan, kesabaran, dan kekuatan doa.
Dari rumah kecil di pelosok Maros, Jumaria mengajarkan dunia bahwa perjalanan menuju Tanah Suci bukan tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan tentang seberapa besar keyakinan yang dijaga di dalam hati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....