Labirin Kurikulum dan Lelah Mental Gen Z: Menggugat "Ganti Menteri Ganti Aturan"
- 25 Apr 2026 12:14 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Dunia pendidikan kita hari ini tampak seperti sebuah laboratorium raksasa yang tidak pernah berhenti bereksperimen. Bagi siswa SMA yang termasuk dalam generasi Z, sekolah bukan lagi sekadar tempat menimba ilmu, melainkan sebuah labirin ketidakpastian. Perubahan instrumen evaluasi yang silih berganti—dari Ujian Nasional, Asesmen Nasional, hingga kini munculnya Tes Kemampuan Akademik (TKA)—menciptakan ilusi bahwa pendidikan kita sedang bertransformasi, padahal di balik itu, ada kesehatan mental siswa yang sedang dipertaruhkan.
Ilusi Objektivitas di Tengah Ketidakpastian
Pemerintah seringkali berdalih bahwa standarisasi melalui tes seperti TKA adalah langkah rasional menuju kebijakan berbasis data (data-driven policy). Logikanya sederhana: angka dianggap mampu memotret kualitas secara jujur. Namun, bagi siswa kelas XII SMA, angka-angka ini seringkali menjadi beban eksistensial yang menyesakkan.
Ketimpangan akses terhadap teknologi dan kualitas pengajar membuat standarisasi ini terasa tidak adil. Data menunjukkan hanya sekitar 62% sekolah yang memiliki akses internet memadai. Memaksakan tes terstandar di tengah ketimpangan infrastruktur bukanlah tindakan yang objektif; itu adalah bentuk pengabaian terhadap realitas sosiologis siswa. Akibatnya, siswa di daerah tertinggal merasa "gagal" sebelum bertanding, yang memicu kecemasan akademik berlebih.
Beban Psikologis: Siswa Sebagai Objek Proyek
Gen Z dikenal sebagai generasi yang paling sadar akan kesehatan mental, namun mereka juga yang paling rentan terhadap tekanan struktural. Ketika kebijakan pendidikan berubah-ubah, terjadi apa yang disebut dengan learning crisis yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga emosional.
• Hilangnya Orientasi: Perubahan aturan membuat siswa merasa tidak memiliki kendali atas masa depan mereka sendiri.
• Pragmatisme Dangkal: Tekanan untuk meraih skor tinggi dalam sistem yang terus berubah mendorong siswa menjadi pragmatis—belajar hanya demi menjawab soal, bukan untuk memahami kehidupan.
• Krisis Identitas: Saat pendidikan direduksi menjadi sekadar angka rapor atau skor TKA, nilai diri siswa pun ikut tereduksi menjadi angka-angka statistik semata.
Melampaui Angka: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan
Pendidikan seharusnya menjadi proses memanusiakan manusia, bukan sekadar proses transfer pengetahuan yang dievaluasi secara kaku. Masalah kesehatan mental Gen Z di sekolah—mulai dari tingkat stres yang tinggi hingga hilangnya motivasi—adalah sinyal bahwa ada yang salah dengan cara kita memandang keberhasilan pendidikan.
Kita perlu menggeser orientasi evaluasi. TKA dan instrumen lainnya tidak boleh menjadi penentu tunggal masa depan siswa. Pendidikan harus kembali pada tujuannya yang hakiki: mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kematangan moral dan stabilitas emosional.
Kesimpulan :
Jika kita terus mempertahankan ilusi bahwa kualitas manusia bisa sepenuhnya diwakili oleh angka di atas kertas, maka kita sedang membiarkan Gen Z layu dalam ketidakpastian. Sudah saatnya kebijakan pendidikan Indonesia berhenti melakukan eksperimen yang mengorbankan ketenangan jiwa siswanya. Karena pada akhirnya, pendidikan yang bermakna bukan tentang seberapa tinggi skor yang diraih, melainkan seberapa tangguh dan beradab manusia yang dihasilkan
Oleh: Lisa Anggraini Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam, IAIN Kerinci
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....