Ketika Harapan Putus di Petang Sepi Ngada

  • 05 Feb 2026 09:13 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Senja menutup lembah-lembah di Jerebuu dengan warna meredup, sementara kegelisahan di Dusun Sawasina belum juga hilang. Sebuah keluarga di Desa Naruwolo kini hidup dalam kenangan seorang bocah 10 tahun yang tak lagi bisa kembali dari pohon cengkeh yang menjadi saksi bisu tragedi tak tergambarkan.

Korban, yang hanya dikenal lewat inisial YBS dan masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar, ditemukan tergantung di sebuah pohon pada akhir Januari lalu. Ia meninggalkan dunia yang penuh tanya, dan sebuah surat kecil untuk ibunya — bukti terakhir dari harapan yang pernah ada, namun kemudian pudar dalam diam. 

Buku dan Pena: Harga yang Tak Terjangkau

Alasan tragis di balik peristiwa ini begitu sederhana — tidak bisa membeli buku tulis dan pena. Dua benda yang bagi banyak anak hanyalah alat sekolah semata, namun bagi YBS menjadi simbol dari ketidakmampuan keluarga menunaikan kebutuhan dasar pendidikan. Barang-barang yang harganya bahkan di bawah sepuluh ribu rupiah pun tak mampu ia miliki.

Ibunda YBS, dalam kesedihan yang tak terucap, sering kali mencoba menjelaskan pada tetangga bahwa alasan putranya pergi begitu saja bukan soal kemalasan, melainkan ketidakberdayaan dalam memenuhi kebutuhan yang tampak sepele namun amat krusial bagi dunia belajarnya.

Ketidaklengkapan administrasi kependudukan membuat keluarga kecil ini bahkan tak terdaftar untuk menerima bantuan sosial, padahal mereka termasuk keluarga miskin ekstrem yang sangat bergantung pada sistem pengaman sosial pemerintah. Kejadian ini kemudian mencerminkan adanya celah besar dalam mekanisme perlindungan sosial di desa-desa terpencil.

Suara Pemerintah dan Tanggapan Publik

Tragedi itu langsung memicu gelombang kesedihan dan kecaman dari berbagai pihak. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan belasungkawa dan memastikan pemerintah pusat serta daerah akan memberi perhatian serius terhadap kasus tersebut. Ia menegaskan, penderitaan seperti ini tidak boleh terjadi lagi di tanah air.

Presiden Prabowo Subianto pun melalui pernyataan resmi yang disampaikan jajarannya menegaskan bahwa kejadian serupa harus diantisipasi. Pemerintah diminta segera mengkoordinasikan langkah guna mencegah tragedi yang sama terulang di masa mendatang.

Sementara itu Gubernur Nusa Tenggara Timur Philipus Melki Laka Lena dengan tegas menyebut tragedi itu sebagai kesalahan sistemik — bukan hanya kegagalan individu. Ia menyatakan bahwa seharusnya sistem pendidikan dan layanan sosial lebih peka terhadap kondisi keluarga rentan sehingga tidak ada lagi nyawa anak yang hilang sia-sia.

Ungkapan Duka dan Pertanyaan yang Tersisa

Warga dusun masih terdiam ketika ditanya mengenai YBS. Beberapa orang tua murid hanya bisa mengusap air mata, sambil bergantian menceritakan bagaimana bocah itu selalu ceria di kelas, rajin belajar, dan penuh tawa. Tidak ada yang menyangka ia akan memilih keluar dari dunia kecilnya dengan cara yang begitu tragis.

Teman-teman sekolahnya kini masuk kelas dengan langkah yang berat. Guru-guru mengaku terpukul dan terus menggali apa yang sebenarnya terjadi di balik kesunyian yang dirasakan anak itu. Banyak di antara mereka yang berharap tragedi ini menjadi pintu bagi masyarakat untuk lebih membuka ruang dialog tentang kesehatan mental anak, tentang tekanan yang tak terlihat, dan tentang betapa setiap anak sebenarnya punya batas kemampuan untuk bertahan sebelum kita menyadarinya.

Kisah YBS bukan hanya soal seorang anak yang “tidak mampu membeli buku”. Ia adalah panggilan keras bagi sistem pendidikan dan sosial Indonesia — bahwa keadilan sosial tidak hanya terlihat dalam angka anggaran atau kebijakan, melainkan dalam realitas hidup setiap anak yang membawa harapan besar di pundaknya.

Rekomendasi Berita