Tangkil Menangis: Banjir Bandang dari Kaki Gunung Kerinci

  • 27 Sep 2025 00:09 WIB
  •  Sungaipenuh

KBRN, Sungai Penuh: Siang itu, langit di Kayu Aro tampak gelap. Awan pekat menggantung, lalu hujan deras turun tanpa henti. Bagi warga Desa Tangkil, Kecamatan Gunung Tujuh, deru hujan deras bukan lagi sekadar suara alam. Itu adalah tanda bahaya yang setiap saat bisa mengubah tenang menjadi bencana.

Sabtu (26/9/2025), firasat itu kembali terbukti. Air bercampur lumpur dan batu turun deras dari perbukitan. Dalam hitungan menit, material itu menerjang pemukiman, merendam rumah, dan menutup jalan nasional yang menjadi jalur utama masyarakat.

“Rumah-rumah terendam. Kami hanya bisa menyelamatkan diri dan barang seadanya,” kata Nasri, salah seorang warga, dengan nada getir.

Tak hanya pemukiman, akses transportasi pun lumpuh. Jalan nasional yang menghubungkan desa-desa di Gunung Tujuh tertutup lumpur dan batu. Kendaraan roda dua tak sanggup melintas, sementara mobil-mobil terpaksa antre atau berhenti total.

“Hujan deras membuat batu dan lumpur turun besar sekali. Jalan langsung tertutup,” cerita Leni, warga lainnya.

Peristiwa semacam ini bukan kali pertama terjadi. Setiap musim hujan, terutama dengan intensitas tinggi, Desa Tangkil selalu menjadi korban. Letaknya yang berada di kaki Gunung Kerinci menjadikannya daerah rawan banjir bandang. Warga menyebut, mereka hidup dengan rasa was-was setiap kali langit menghitam.

Di balik kepanikan itu, tersimpan harapan besar. Warga ingin pemerintah lebih serius menata kawasan rawan bencana, memperkuat mitigasi, serta memperhatikan keselamatan masyarakat yang berada di jalur rentan. Masyarakat pun sadar, mereka tak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Menjaga alam, berhati-hati dalam membuka lahan, hingga tertib dalam menjaga lingkungan harus menjadi sikap bersama.

Malam itu, hujan belum juga reda. Di tengah gelap dan suara deras air, warga Tangkil hanya bisa berdoa: semoga besok masih ada rumah untuk kembali, dan jalan utama kembali bisa dilalui.

Banjir bandang ini seakan menjadi pesan keras—bahwa bencana bukan hanya cerita duka, tetapi juga peringatan. Peringatan agar semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, lebih peduli dan lebih tegas menjaga alam sebelum amarah gunung dan derasnya hujan kembali menelan harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....