Petani Sungai Asam Hadapi Tekanan Biaya, Lahan Gula Merah Beralih Fungsi
- 17 Mei 2026 14:24 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Desa Sungai Asam, Kecamatan Kayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dahulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gula merah terbesar di wilayah tersebut. Produk gula merah dari desa ini bahkan pernah menembus pasar luar daerah, mulai dari berbagai kabupaten di Sumatera hingga Pulau Jawa.
Namun, kejayaan itu kini mulai memudar. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak petani di Desa Sungai Asam mulai meninggalkan usaha gula merah yang telah diwariskan turun-temurun dan beralih ke tanaman hortikultura seperti cabai merah dan kentang.
Perubahan ini tidak terjadi tanpa alasan. Meningkatnya biaya produksi serta sulitnya mendapatkan kayu bakar menjadi faktor utama yang membuat usaha gula merah semakin berat dijalankan.
Salah seorang petani, Deni, mengatakan bahwa pilihan beralih ke hortikultura merupakan langkah untuk mempertahankan pendapatan keluarga di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
“Sekarang banyak petani lebih memilih cabai dan kentang karena hasilnya lebih cepat dan lebih menjanjikan. Kalau gula merah, prosesnya panjang dan butuh tenaga besar,” ujarnya.Minggu 17 Mei 2026
Ia menjelaskan, proses pembuatan gula merah membutuhkan tahapan panjang, mulai dari penggilingan tebu, perebusan nira, hingga pencetakan. Semua proses tersebut memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
“Kayu bakar sekarang sulit didapat dan harganya juga mahal. Kalau tetap bertahan, keuntungan semakin tipis,” tambah Deni.
Selain itu, petani yang masih memproduksi gula merah namun tidak memiliki fasilitas sendiri harus menyewa mesin penggiling tebu serta tempat produksi milik pengusaha setempat. Biaya sewa tersebut mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram, sementara harga jual gula merah di tingkat petani hanya berkisar Rp10 ribu per kilogram.
Kondisi ini membuat para petani gula merah di Desa Sungai Asam berada dalam posisi sulit. Usaha yang dulu menjadi kebanggaan daerah kini terancam semakin ditinggalkan jika tidak ada dukungan atau solusi untuk menekan biaya produksi.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin gula merah khas Sungai Asam hanya akan menjadi bagian dari sejarah, tergantikan oleh komoditas hortikultura yang dianggap lebih menguntungkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....