Benarkah daging kambing bikin darah tinggi? Simak penjelasan medis

  • 31 Mei 2026 09:15 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Hari Raya Idul Adha identik dengan tradisi penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing dan domba.

Pada momen ini, masyarakat biasanya mengolah berbagai hidangan berbahan dasar daging kurban, termasuk daging kambing yang dikenal memiliki aroma khas dan cita rasa kuat.

Namun di tengah masyarakat, masih banyak anggapan bahwa mengonsumsi daging kambing dapat langsung memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Istilah “darah tinggi” bahkan kerap dikaitkan dengan konsumsi sate, gulai hingga tongseng kambing saat Idul Adha.

Lalu, benarkah daging kambing menjadi penyebab utama hipertensi?

Fakta Medis soal Daging Kambing

Secara medis, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan daging kambing secara langsung menyebabkan tekanan darah tinggi.

Banyak ahli kesehatan justru menilai persepsi tersebut berkembang dari kepercayaan turun-temurun di masyarakat.

Faktor yang lebih berpengaruh terhadap tekanan darah seseorang adalah pola makan secara keseluruhan, termasuk jumlah konsumsi dan cara mengolah makanan.

Dikutip dari sejumlah sumber kesehatan, daging kambing atau chevon termasuk salah satu jenis daging merah dengan kandungan protein dan zat besi cukup tinggi.

Daging kambing juga diketahui memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan beberapa jenis daging merah lainnya.

Dalam porsi yang sama, daging kambing mengandung sekitar 258 kalori, sementara daging sapi berada di kisaran 217 kalori.

Meski kalorinya sedikit lebih tinggi, kandungan lemak jenuh daging kambing relatif lebih rendah sehingga dianggap lebih ramah bagi kesehatan jantung jika dikonsumsi secara wajar.

Selain menjadi sumber protein hewani, daging kambing juga mengandung selenium yang berfungsi sebagai antioksidan untuk membantu melindungi sel tubuh.

Kandungan zat besi pada daging kambing juga berperan membantu pembentukan hemoglobin sehingga baik untuk mencegah anemia.

Cara Pengolahan Lebih Berpengaruh

Para ahli menilai, peningkatan risiko hipertensi justru lebih dipengaruhi cara pengolahan makanan dibanding jenis daging itu sendiri.

Mengolah daging kambing dengan terlalu banyak garam, santan berlebih, minyak, atau bahan tinggi lemak dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Metode memasak seperti menggoreng dengan minyak berlebihan atau penggunaan bumbu tinggi sodium dinilai dapat memicu tekanan darah naik.

Sebaliknya, cara memasak yang lebih sehat seperti merebus, memanggang, atau menggunakan bumbu alami lebih dianjurkan.

Selain itu, porsi makan juga menjadi faktor penting.

Konsumsi daging merah secara berlebihan tetap berisiko meningkatkan beban kerja jantung dan pembuluh darah, terutama bagi penderita hipertensi atau penyakit jantung.

Karena itu, masyarakat dianjurkan tetap menjaga keseimbangan pola makan selama Idul Adha.

Konsumsi daging sebaiknya diimbangi dengan sayur, buah, serta cukup minum air putih agar asupan nutrisi tetap seimbang.

Bukan Biang Kerok Hipertensi

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi daging kambing dalam pola makan seimbang tidak memberikan dampak signifikan terhadap tekanan darah, khususnya pada penderita hipertensi ringan.

Dengan demikian, daging kambing tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab utama darah tinggi.

Yang terpenting adalah mengatur pola makan, membatasi konsumsi berlebihan, serta memilih cara pengolahan yang lebih sehat.

Dengan pemahaman yang tepat, daging kambing tetap dapat menjadi sumber protein hewani yang aman dan bermanfaat bagi tubuh jika dikonsumsi secara bijak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....