Apa yang terjadi pada otak saat rutin jalan kaki
- 29 Apr 2026 18:47 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Salah satu kebiasaan kecil yang berhasil saya bentuk pada tahun 2025 adalah jalan kaki dan lari pagi. Selama setahun ini saya sudah berjalan sejauh 700 kilometer lebih. Alhamdulillah atas nikmat kesehatan yang masih Allah berikan!
Jalan kaki di pagi hari memiliki manfaat positif bagi tubuh. Tidak hanya sebatas aktivitas fisik, namun juga aspek psikologis. Menghirup udara pagi yang masih bersih, melihat dedaunan hijau, mengamati alam dan lingkungan sekitar.
Jalan Kaki sambil Melatih Fokus
Manfaat nyata berjalan kaki di pagi hari yaitu melatih FOKUS. Setiap langkah yang kita pacu memicu saraf di seluruh tubuh. Hentakan kaki yang menyentuh bumi, mata yang mengamati alam, dan kedua telinga ikut menyeleksi suara dari sekitar.
Teknologi telah merusak fokus manusia. Benarkah ?
Saya tidak sedang menakuti atau mengada-ngada. Coba sejenak amati kebiasaan kita sehari-hari. Seberapa fokuskah kita mengerjakan satu hal dalam waktu lama?
Smartphone merubah struktur jaringan di otak kita. Secara tidak langsung, fokus kita berkurang ke level paling buruk. Banyak pekerjaan yang kita tunda-tunda adalah satu bagian kecil pertanda melemahnya fokus.
Sejak smartphone muncul, kita sering menggunakan dua panca indra bersamaan. Kebiasaan ini membentuk jaringan baru dalam waktu singkat, lalu otak tidak menyimpannya ke dalam memori jangka panjang.
Jalan kaki melatih kita untuk mengaktifkan saraf-saraf penting di tubuh. Tanpa bergerak, kita akan perlahan kehilangan kemampuan menyerap informasi dan menyimpannya di otak dalam waktu lama.
Kemampuan kognitif kita disokong oleh pergerakan. Duduk dalam waktu lama atau sering tidur membuat saraf jarang terpancing. Dengan begitu, rasa malas jauh lebih mudah menyapa tubuh.
Cobalah berjalan kaki sambil mengamati lingkungan tempat kita tinggal. Banyak hal-hal kecil atau sederhana yang terkadang menjadi sumber ide. Itu bukti kepekaan otak saat tubuh bergerak.
Pagi tadi saya berjalan kaki melewati rumah penduduk. Saya mengamati kebiasaan orang-orang di jalan. Saya belajar tentang kasih sayang seorang ayah saat mengantar anak ke sekolah.
| Baca juga: 10 Manfaat Minum Air Putih untuk Kesehatan |
Seorang ibu yang menyuapi anak. Atau kebaikan petugas kebersihan yang mengumpulkan sampah untuk diangkut ke mobil.
Pikiran saya kembali melihat pohon-pohon besar yang menyuplai angin segar dan keteduhan saat berjalan tepat di bawah cabang-cabang pohon tersebut.
Pohon-pohon ini ditanam di seputaran jalan. Butuh waktu 1o tahun untuk tumbuh besar dan meneduhkan. Suasana menenangkan jelas terasa saat melewati ratusan pohon tinggi ini. Matahari tidak langsung menyengat badan karena terhalang dedaunan.
Tepat di sebelahnya terdapat sungai besar. Akar-akar pohon menyerap air, menyimpan dan mengeluarkan saat diperlukan. Ketika melewati area tanpa pohon, saraf-saraf di tubuh saya langsung aktif memberi perintah untuk bergerak lebih cepat. Panas!!!
Saya mengamati bagaimana alam memberi perlindungan dengan caranya sendiri. Jalan kaki di bawah pohon-pohon besar memberi oksigen gratis dengan kualitas premium.
Oksigen yang kita hirup terlihat murah. Coba sesekali berkunjung ke rumah sakit dan amati orang-orang yang terpaksa menggunakan tabung oksigen untuk bisa bernafas. Berapa biaya yang harus dibayar? murah atau mahal?
Kita jarang menghargai hal-hal kecil kecuali dalam kondisi terpaksa. Oleh sebab itu, sesekali paksa tubuh untuk jalan kaki di pagi hari melewati pepohonan besar dan nikmati udara segar sambil membayangkan betapa besar kenikmatan menghirup udara segar dari alam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....