Dulu Manusia Tidur Dua Kali Setiap Malam, Kenapa Kini Hilang?

  • 26 Apr 2026 07:23 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai PePernah - terbangun di tengah malam, sekitar pukul 3 pagi, dan merasa ada yang salah? Tenang, kamu tidak sendirian. Ternyata, pola bangun di malam hari adalah sesuatu yang sangat manusiawi — bahkan pernah menjadi kebiasaan umum sepanjang sejarah.

Dalam sebagian besar sejarah manusia, tidur delapan jam tanpa henti seperti sekarang bukanlah hal yang normal. Dahulu, orang justru tidur dalam dua tahap, dikenal sebagai “tidur pertama” dan “tidur kedua”.

Setiap sesi berlangsung beberapa jam, dan di antaranya ada masa terjaga sekitar satu jam atau lebih — biasanya di tengah malam. Catatan sejarah dari Eropa, Afrika, Asia, hingga Amerika menunjukkan bahwa masyarakat zaman dahulu tidur lebih awal setelah matahari terbenam, lalu terbangun sekitar tengah malam sebelum kembali tidur hingga fajar.

Masa bangun ini bukan waktu yang “terbuang”. Justru, inilah saat yang dianggap paling tenang dan reflektif. Banyak orang menggunakan waktu itu untuk berdoa, membaca, menulis, merenungkan mimpi, bahkan bercakap atau berhubungan intim dengan pasangan.

Sastrawan kuno seperti Homer dan Virgil bahkan menulis tentang “jam yang mengakhiri tidur pertama”, menandakan bahwa dua kali tidur semalam adalah hal yang sangat umum pada masa itu.

Mengapa “Tidur Kedua” Menghilang?

Kebiasaan dua kali tidur mulai memudar sekitar dua abad terakhir, seiring perubahan besar dalam masyarakat. Salah satu penyebab utamanya adalah munculnya penerangan buatan.

Pada abad ke-18 hingga ke-19, penggunaan lampu minyak, gas, dan akhirnya listrik membuat malam hari menjadi waktu yang lebih produktif. Orang mulai tidur lebih larut, dan ritme alami dua kali tidur pun tergantikan oleh pola tidur tunggal.

Selain itu, Revolusi Industri juga turut mengubah cara manusia beristirahat. Jadwal kerja pabrik menuntut waktu tidur yang padat dan konsisten, mendorong munculnya konsep “tidur delapan jam tanpa gangguan” yang kini dianggap ideal.

Namun, beberapa eksperimen menunjukkan bahwa pola tidur dua kali masih alami bagi tubuh manusia. Dalam penelitian panjang yang meniru malam musim dingin tanpa cahaya, peserta secara alami kembali ke pola dua kali tidur dengan masa terjaga tenang di tengahnya. Studi di komunitas agraris di Madagaskar yang hidup tanpa listrik pun menunjukkan hasil serupa.

Cahaya, Musim Dingin, dan Persepsi Waktu

Cahaya memiliki peran besar dalam mengatur ritme sirkadian — jam biologis tubuh kita. Paparan cahaya di malam hari menekan produksi melatonin dan menggeser waktu tidur. Itulah sebabnya, lampu terang di malam hari bisa membuat kita sulit tidur atau bangun terlalu larut.

Di musim dingin, ketika sinar matahari lebih redup dan datang lebih lambat, tubuh kita semakin sulit menyesuaikan diri. Penelitian menunjukkan bahwa cahaya pagi, terutama cahaya biru, sangat penting untuk menjaga keseimbangan hormon tidur dan bangun.

Menariknya, penelitian di Islandia tahun 1993 menemukan bahwa penduduk lokal dan keturunannya di Kanada memiliki tingkat gangguan afektif musiman (SAD) yang rendah. Diduga, faktor genetik dan rutinitas sosial yang konsisten membantu mereka beradaptasi lebih baik dengan malam panjang Arktik.

Penelitian di Environmental Temporal Cognition Lab, Keele University, juga menunjukkan hubungan kuat antara pencahayaan, suasana hati, dan persepsi waktu. Dalam uji coba menggunakan video 360 derajat, peserta merasa waktu berjalan lebih lambat pada suasana gelap atau sore hari — terutama pada mereka yang sedang murung.

Melihat Insomnia dengan Perspektif Baru

Bangun sebentar di tengah malam sebenarnya bukan tanda insomnia atau gangguan tidur. Ini bagian normal dari transisi antar fase tidur, terutama menjelang fase REM (Rapid Eye Movement), yang berhubungan dengan mimpi.

Masalahnya, di dunia modern, kita terbiasa menganggap bangun malam sebagai gangguan. Akibatnya, rasa cemas muncul, dan waktu terasa berjalan sangat lambat.

Ahli tidur menyarankan untuk tidak memaksa diri tidur kembali. Jika terjaga lebih dari 20 menit, cobalah bangun dan lakukan aktivitas ringan dalam cahaya redup, seperti membaca atau mendengarkan musik lembut. Hindari melihat jam, karena fokus pada waktu justru membuat otak semakin aktif.

Seperti dijelaskan oleh Darren Rhodes, dosen Psikologi Kognitif sekaligus direktur Environmental Temporal Cognition Lab di Keele University, “Ketenangan dalam menerima waktu terjaga, serta memahami bagaimana otak memersepsi waktu, bisa menjadi kunci untuk tidur nyenyak kembali.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....