Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem

  • 30 Agt 2026 15:22 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Gletser dan lapisan es terbentuk ketika salju menumpuk, memadat, lalu mengkristal kembali. Proses tersebut berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun. Kini, massa es itu menutupi sekitar 10 persen luas daratan Bumi. Namun, perubahan iklim membuat keberadaan gletser menghadapi tekanan semakin besar. Dalam dua dekade terakhir, kehilangan massa gletser terus meningkat di berbagai wilayah dunia.

Sejumlah kawasan bahkan kehilangan hampir 40 persen massa esnya. Jika emisi gas rumah kaca bertahan pada tingkat sekarang, ancamannya semakin serius. Dunia berpotensi kehilangan hampir seluruh gletser dataran rendah dan tropis. Pada saat yang sama, sebagian besar kriosfer global juga menghadapi penyusutan. Kondisi tersebut memberi dampak langsung bagi manusia dan alam.

Gletser Menyimpan Rekaman Perubahan Iklim

Laporan Program Lingkungan PBB, Mountains in Motion: Global Linkages from Ridge to River, mengulas perubahan tersebut. Laporan itu terbit dalam rangka Hari Gletser Sedunia yang berlangsung setiap 21 Maret. Sebagian gletser memang baru berusia beberapa ratus tahun. Namun, sebagian besar gletser berasal dari sisa Zaman Es terakhir yang berakhir lebih dari 10.000 tahun lalu.

Karena itu, gletser bukan sekadar kumpulan es di pegunungan. Lapisan es menyimpan catatan mengenai iklim, polusi, dan perubahan lingkungan sepanjang sejarah. Para ilmuwan menemukan aerosol, bakteri, biomassa, serta berbagai partikel di dalam lapisan tersebut. Temuan itu membantu ilmuwan menelusuri perubahan atmosfer dan biosfer dari masa ke masa.

Namun, pencairan gletser juga menghapus arsip alami tersebut secara perlahan. Dunia berisiko kehilangan bukti penting yang tidak dapat tergantikan. Padahal, catatan tersebut dapat membantu ilmuwan memahami perubahan masa lalu. Data itu juga berguna untuk memperkuat proyeksi kondisi iklim pada masa mendatang.

Ancaman terhadap Ketersediaan Air

Gletser juga memiliki peran besar dalam menjaga ketersediaan air tawar. Sekitar 70 persen air tawar dunia diperkirakan tersimpan di gletser. Bersama salju dan hujan, air lelehan gletser mengalir menuju berbagai sistem sungai. Aliran tersebut menopang kebutuhan air minum, pertanian, energi, dan kegiatan ekonomi.

Namun, perubahan pola pencairan mulai mengubah kondisi sejumlah daerah aliran sungai. Banyak cekungan sungai telah melewati titik yang disebut sebagai "puncak air". Kondisi itu terjadi ketika pencairan gletser tidak lagi meningkatkan aliran permukaan. Setelah melewati titik tersebut, berkurangnya massa gletser justru menurunkan aliran air.

Laporan tersebut memperkirakan sepertiga cekungan sungai terbesar dunia mengalami penurunan aliran permukaan. Penurunan itu dapat mencapai lebih dari 10 persen pada 2100. Hilangnya gletser menjadi salah satu faktor utama dalam perubahan tersebut. Akibatnya, jutaan orang menghadapi risiko terhadap pasokan air pada masa depan.

“Gletser adalah penjaga kita yang diam,” kata Sonam Tashi, Direktur Departemen Lingkungan dan Perubahan Iklim Bhutan. “Ketika gletser mencair terlalu cepat, bukan hanya lanskap kita yang berubah – tetapi juga keamanan air kita, sistem pangan kita, ekonomi, dan keselamatan rakyat kita yang terancam.”

Polusi Ikut Mempercepat Pencairan

Selain perubahan suhu, polusi juga memberi tekanan terhadap gletser. Polutan dari industri, transportasi, dan pertanian dapat terbawa angin menuju wilayah pegunungan. Di sana, berbagai kontaminan menumpuk pada permukaan salju dan es. Akibatnya, kawasan tinggi yang terpencil tetap menghadapi dampak aktivitas manusia.

Partikel berwarna gelap dapat menyerap panas lebih banyak pada permukaan gletser. Proses tersebut kemudian mempercepat pencairan es. Selain itu, pencairan dapat melepaskan kembali polutan yang sebelumnya tersimpan dalam lapisan es. Laporan itu menyoroti logam berat, polutan organik persisten, serta kontaminan lain sebagai ancaman yang terus meningkat.

Dampaknya tidak berhenti pada gletser. Kontaminan tersebut dapat memengaruhi kualitas air dan kesehatan ekosistem. Pada akhirnya, perubahan itu turut mengancam kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pencairan gletser juga berkaitan erat dengan persoalan pencemaran lingkungan.

Ekosistem Menghadapi Perubahan Besar

Meski berada jauh dari permukiman, kawasan sekitar gletser memiliki kehidupan yang beragam. Air lelehan menopang berbagai sistem air tawar di wilayah pegunungan. Sementara itu, penyusutan es membuka lahan baru bagi spesies perintis. Seiring waktu, kawasan tersebut dapat berkembang menjadi padang rumput, hutan, lahan basah, dan ekosistem lainnya.

Perubahan tersebut memang dapat menciptakan ruang baru bagi sebagian spesies. Namun, kondisi itu tidak selalu membawa dampak positif. Penyusutan gletser menjadi salah satu tanda perubahan iklim yang semakin parah. Spesies yang bergantung khusus pada lingkungan gletser juga menghadapi ancaman kehilangan habitat.

Selain itu, perubahan es turut mengubah pola bahaya di kawasan pegunungan. Pencairan dapat meningkatkan limpasan air dan risiko banjir pada musim tertentu. Pada musim lain, perubahan pasokan air justru dapat memperburuk kekeringan. Kondisi tersebut dapat mengancam rumah, lahan pertanian, infrastruktur, dan mata pencaharian masyarakat.

Gletser Memengaruhi Sistem Iklim

Gletser juga berperan aktif dalam sistem iklim, bukan sekadar menerima dampak perubahan iklim. Permukaan salju dan es yang cerah mampu memantulkan sinar matahari kembali ke atmosfer. Para ilmuwan mengenal kemampuan tersebut sebagai albedo. Selama permukaan putih tetap luas, gletser membantu mengurangi penyerapan panas di kawasan pegunungan.

Ketika salju dan es menyusut, kemampuan reflektif tersebut ikut berkurang. Permukaan yang lebih gelap kemudian menyerap lebih banyak panas. Kondisi itu dapat mempercepat pemanasan dan pencairan berikutnya. Karena itu, penyusutan gletser dapat menciptakan lingkaran perubahan yang semakin sulit dihentikan.

Laporan tersebut juga mencatat peran gletser dalam sistem cuaca lokal. Gletser turut berkaitan dengan pola hidrologi dalam skala yang lebih luas. Perubahan pada sistem tersebut kini mulai terlihat di berbagai wilayah. Karena itu, kehilangan gletser memiliki konsekuensi yang melampaui kawasan pegunungan.

Hilangnya Gletser Juga Mengancam Warisan Budaya

Nilai gletser tidak hanya berkaitan dengan luas permukaan atau jumlah massa es. Banyak masyarakat membangun hubungan budaya dan spiritual dengan pegunungan serta gletser. Hubungan tersebut muncul dalam upacara, sastra, seni, dan berbagai kegiatan publik. Ketika gletser menyusut, masyarakat turut merasakan perubahan terhadap identitas dan ingatan kolektif.

Bagi masyarakat adat dan komunitas lokal, gletser memiliki hubungan kuat dengan tempat tinggal mereka. Hilangnya gletser karena itu dapat memunculkan rasa kehilangan yang lebih luas. Dampaknya bukan hanya berupa perubahan lingkungan. Masyarakat juga menghadapi kehilangan bagian dari warisan dan hubungan budaya mereka.

Karena itu, pembahasan mengenai gletser tidak cukup hanya melihat sisi ilmiah. Masyarakat juga perlu melihat dimensi sosial, budaya, dan spiritualnya. Perubahan lanskap turut memengaruhi cara komunitas memahami tempat mereka. Pada akhirnya, kehilangan kriosfer juga menyentuh persoalan identitas dan rasa memiliki.

Dunia Mulai Memperkuat Upaya Perlindungan

Sejumlah langkah internasional mulai menunjukkan perhatian lebih besar terhadap kondisi tersebut. Pada Desember 2025, UNEA-7 mengadopsi resolusi penting mengenai pelestarian gletser dan kriosfer. Resolusi itu juga memberi perhatian khusus terhadap kawasan pegunungan. Tajikistan mengusulkan resolusi tersebut bersama Bhutan dan Peru sebagai sponsor pendamping.

Resolusi itu mendorong kerja sama, pendanaan, peningkatan kapasitas, dan berbagai langkah perlindungan. Upaya tersebut bertujuan membantu negara dan komunitas rentan menghadapi kehilangan gletser. Selain itu, resolusi meminta UNEP memperkuat hubungan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan. UNEP juga perlu mengidentifikasi kesenjangan serta kebutuhan dalam upaya perlindungan.

Langkah tersebut turut mendorong pertukaran pengetahuan mengenai perlindungan ekosistem pegunungan. Upaya itu mencakup kawasan yang muncul setelah gletser mengalami penyusutan. Pemerintah dan komunitas membutuhkan kerja sama lebih kuat untuk menghadapi perubahan tersebut. Dengan begitu, kebijakan dapat berjalan berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat.

“Resolusi UNEA-7 mengirimkan pesan yang jelas: perlindungan gletser dan kriosfer yang lebih luas adalah tanggung jawab global bersama dan investasi strategis dalam pengelolaan sumber daya air berkelanjutan, keseimbangan ekologis, ketahanan, dan kesejahteraan manusia,” kata Bahodur Sheralizoda, Ketua Komite Perlindungan Lingkungan Tajikistan. “Kami berharap ini akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata, kemitraan yang lebih kuat, dan investasi yang lebih besar untuk generasi sekarang dan mendatang.”

Gletser kini menghadapi perubahan yang semakin cepat akibat pemanasan global dan tekanan lingkungan. Dampaknya menyentuh air tawar, ekosistem, keselamatan, ekonomi, hingga kehidupan budaya masyarakat. Karena itu, perlindungan gletser membutuhkan tindakan bersama dari pemerintah, ilmuwan, komunitas, dan masyarakat luas. Masa depan gletser sekaligus mencerminkan kemampuan manusia menjaga keseimbangan lingkungan untuk generasi berikutnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....