Internet Makin Pintar, Kenapa Kita Makin Mudah Percaya?
- 23 Agt 2026 16:02 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Berbagai informasi yang terus mengalir melalui layar ponsel setiap hari. Sejak bangun hingga beristirahat, berita dan video muncul silih berganti. Media sosial juga menghadirkan komentar serta potongan informasi tanpa henti. Akibatnya, seseorang dapat menerima informasi melebihi kemampuan untuk mencernanya secara utuh.
Dulu, masyarakat membutuhkan koran, televisi, radio, atau buku untuk mencari informasi. Kini, beberapa sentuhan pada layar cukup untuk mengetahui peristiwa dari tempat yang jauh. Namun, kemudahan itu menghadirkan persoalan baru bagi pengguna. Kita memang semakin mudah memperoleh informasi, tetapi belum tentu semakin mudah menentukan kebenarannya.
Hoaks Makin Menjadi Tantangan
Data Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 1.923 konten hoaks sepanjang 2024. Petugas kementerian berhasil menangkap atau mengidentifikasi seluruh konten tersebut. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut angka itu sebagai “puncak gunung es”. Menurutnya, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. (Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).
Karena itu, persoalan informasi kini tidak sekadar menyangkut jumlah informasi. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan masyarakat mengolah informasi tersebut. Kita dapat membaca puluhan berita tanpa benar-benar memahami persoalan utamanya. Kita juga dapat menonton banyak video tanpa memahami konteks setiap peristiwa.
Selain itu, kecepatan mulai memengaruhi cara masyarakat mengonsumsi informasi. Banyak orang ingin mengetahui sesuatu lebih cepat daripada orang lain. Mereka juga ingin segera membagikan informasi yang baru mereka temukan. Akibatnya, keinginan berbagi terkadang mengalahkan kebiasaan memeriksa kebenaran.
Informasi tanpa sumber jelas dapat menyebar luas hanya dalam hitungan menit. Dalam situasi tersebut, tombol bagikan dapat bergerak lebih cepat daripada pertimbangan. Karena itu, pengguna perlu memberi jeda sebelum meneruskan sebuah informasi. Jeda singkat dapat mencegah informasi keliru menjangkau lebih banyak orang.
Informasi Menarik Belum Tentu Benar
Media sosial menghadirkan persoalan lain karena sistemnya mendorong perhatian pengguna. Konten yang mengejutkan sering mengundang reaksi lebih besar. Begitu pula konten yang memicu kemarahan, ketakutan, atau rasa penasaran. Akhirnya, sesuatu yang menarik perhatian belum tentu memiliki tingkat kebenaran yang sama.
Selain itu, keyakinan pribadi sering memengaruhi cara seseorang menerima informasi. Kita cenderung lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan pandangan sebelumnya. Sebaliknya, kita sering mencurigai informasi yang bertentangan dengan keyakinan sendiri. Pola tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan fakta yang sebenarnya penting.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga menemukan persoalan terkait penyebaran hoaks. Sejumlah responden mengakui pernah menyebarkan informasi palsu. Faktor emosi dan kepentingan tertentu dapat mendorong tindakan tersebut. Bahkan, seseorang dapat tetap membagikan informasi meski mengetahui masalah di dalamnya. (Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).
Cara masyarakat membaca informasi juga mengalami perubahan besar. Kini, banyak orang mengandalkan judul, gambar, potongan video, atau kalimat singkat. Mereka sering tidak memiliki waktu untuk membaca seluruh konteks sebuah peristiwa. Akibatnya, bagian kecil sebuah informasi dapat menggantikan gambaran keseluruhan.
Masalah muncul ketika seseorang menganggap potongan informasi sebagai cerita lengkap. Sebuah video mungkin benar-benar menampilkan kejadian tertentu. Namun, kita tetap perlu mengetahui waktu, lokasi, dan situasi dalam video tersebut. Tanpa konteks itu, kita dapat menarik kesimpulan yang keliru.
Karena itu, kita perlu membiasakan diri berhenti sejenak sebelum mempercayai informasi. Kita dapat bertanya tentang sumber, bukti, waktu, dan konteks informasi tersebut. Kita juga perlu mencari sumber lain untuk membandingkan informasi yang kita terima. Kebiasaan sederhana itu dapat membantu kita memahami sebuah peristiwa secara lebih utuh.
Deepfake Membuat Tantangan Semakin Berat
Perkembangan kecerdasan buatan kini menambah tantangan baru bagi masyarakat. Teknologi tersebut membuat pembuatan teks, gambar, suara, dan video semakin mudah. Data Sensity AI yang dikutip Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan peningkatan 550 persen konten deepfake. Angka tersebut tercatat dalam lima tahun terakhir. (Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).
Kondisi itu membuat tampilan visual tidak lagi cukup sebagai bukti kebenaran. Sesuatu yang terlihat meyakinkan tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Masyarakat perlu memahami bahwa teknologi dapat membantu sekaligus membuka ruang penyalahgunaan. Karena itu, kemampuan memeriksa keaslian informasi harus ikut berkembang.
Kasus pada awal 2025 memperlihatkan risiko tersebut secara nyata. Pelaku menggunakan video deepfake yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto. Mereka memakai video manipulasi itu untuk menawarkan bantuan pemerintah palsu. Kasus tersebut menyasar sekitar 100 orang dari 20 provinsi dengan kerugian sekitar Rp65 juta. (Sumber: Tempo, 7 Februari 2025).
Peristiwa itu menunjukkan bahwa teknologi dapat memperkuat kebohongan. Pelaku dapat membuat informasi palsu terlihat semakin meyakinkan. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa informasi sebelum mengambil keputusan. Kita juga perlu berhati-hati ketika sebuah konten meminta uang atau data pribadi.
Literasi Digital Membutuhkan Kebiasaan Kritis
Persoalan informasi tidak cukup kita hadapi dengan membaca lebih banyak. Kita juga perlu membangun kemampuan membaca secara kritis. Kebiasaan itu mencakup pemeriksaan sumber, bukti, konteks, dan informasi pembanding. Dengan cara tersebut, kita tidak mudah menerima klaim hanya karena tampil meyakinkan.
Pendidikan juga memiliki peran penting dalam membangun kemampuan tersebut. Sekolah dan lingkungan belajar perlu mengajarkan cara menilai sebuah informasi. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan seseorang menemukan jawaban. Pendidikan juga perlu mengajarkan cara menguji kualitas jawaban tersebut.
Pertanyaan sederhana dapat menjadi langkah awal yang efektif. Kita dapat bertanya, “Dari mana sumbernya?” atau “Apa buktinya?”. Kita juga dapat mencari pihak lain yang memiliki informasi berbeda. Dengan begitu, kita memberi ruang bagi penalaran sebelum mengambil kesimpulan.
Jurnalisme juga memiliki peran penting dalam menghadapi derasnya informasi. Ketika semua orang dapat membuat konten, media tetap memiliki tanggung jawab khusus. Jurnalis perlu memeriksa fakta, mencari konteks, serta menguji informasi sebelum menyampaikannya. Kerja jurnalistik yang kredibel justru semakin penting ketika informasi semakin melimpah.
Namun, masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas ruang digital. Setiap tombol bagikan ikut menentukan informasi yang beredar kepada publik. Karena itu, kita perlu memeriksa informasi sebelum meneruskannya kepada orang lain. Kebiasaan tersebut bukan tindakan berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab digital.
Kita mungkin tidak mampu menghentikan arus informasi yang terus bergerak. Setiap hari, berita, video, pendapat, dan klaim baru akan muncul. Namun, kita masih dapat mengendalikan cara menerima dan menyebarkannya. Keraguan yang sehat bukan berarti menolak semua informasi, melainkan memberi waktu untuk memeriksanya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar era informasi bukan sekadar jumlah informasi yang kita kumpulkan. Tantangan sebenarnya terletak pada kemampuan memahami dan menilai informasi tersebut. Mengetahui sesuatu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi memahami konteksnya membutuhkan waktu lebih panjang. Karena itu, kemampuan terpenting bukan selalu menjadi yang tercepat mengetahui, melainkan berani berhenti, bertanya, dan berkata, “Saya belum cukup tahu untuk mempercayainya.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....